Postingan kali ini akan bercerita tentang rasa kagum saya pada seorang pria. Mungkin kita bisa mengatakan ini adalah cinta pertama, karena sampai sekarang perasaan saya terhadapnya masih tetap sama, membekas dan akan saya kenang selamanya.
Pria ini memberikan saya begitu banyak pelajaran berharga dalam hidup saya. Pria yang sabar dan telaten dalam menghadapi ego saya yang sebesar gunung. Pria yang juga paling bisa meng-handle sifat keras kepala saya. Kepadanya saya tunduk, kepadanya saya patuh. Tidak satupun kata-katanya yang tidak saya dengarkan, karena saya tidak ingin mengecewakannya. Saya sangat mencintainya sampai saya tidak ingin ia kecewa meskipu tentunya sering kali secara tidak sadar saya melakukannya. Tapi ternyata sesering itu pula ia memaafkan. Sampai hari ini saya belum memiliki alasan untuk berhenti mencintainya, dan saya yakin dia pun begitu. Karena saya tahu pasti seberapa besar rasa cintanya pada saya.
Ya, pria ini adalah orang yang selama 21 tahun di hidup saya telah saya panggil Papa. Ayah saya, teman saya, pendukung finansial saya, bodyguard saya, satu-satunya pria yang mencintai saya tanpa alasan maupun pamrih. Dia Ayah saya, Ir. Bambang Winarto. Pria yang saya cintai secara utuh dan tanpa cela.
Dia bukanlah seorang pria hebat dan sangat terpandang. Dia tidak memakai setelan jas sebagai pakaian sehari-harinya. Dia bukanlah anak pejabat tinggi seperti layaknya Ibu saya. Dia juga tidak mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari sekedar gelar Insinyur-nya. Sungguh, di mata orang lain dia hanyalah pria biasa, tidak ada yang istimewa, Tapi beliau sangatlah luar biasa di mata saya.
Sebagai seorang Ayah, tentunya beliau tidaklah memiliki figur yang sesempurna itu. Tak jarang juga beliau membuat saya kesal hanya karena dengan tidak sengaja merokok di depan saya, hal yang membuat saya sesak napas sampai beberapa jam kemudian. Atau dengan tidak mengingat hal-hal trivia yang saya miliki. Tapi tetap, itu semua tidak cukup memberi alasan untuk saya berhenti mencintainya.
Di mata kerabat dan suadaranya, sosoknya adalah orang yang sangat pendiam, jarang mengeluarkan kata-kata ataupun hanya berbicara sekenanya. Malahan beliau dianggap galak dan ditakuti keponakannya. Saya mengamini sifat pendiam Ayah saya sebagai bentuk opposit dari sifat Ibu saya yang cerewet dan selalu punya bahan obrolan setiap waktu (ya, saya mewarisi sifat ini langsung dari Ibu saya), tapi beliau sama sekali tidak menakutkan (atau mungkin karena Ibu saya lebih menakutkan? LOL). Di mata saya, Ayah saya memiliki wibawa yang begitu tinggi, tapi tidak pernah mengomel tentang hal yang sepele. Beliau juga jarang terlihat emosi, dan di 21 tahun umur saya, saya baru sekali melihat beliau marah kepada adik perempuan saya. Saat itu ia tidak berteriak dengan keras atau memukul adik saya, atau yang lainnya. Beliau hanya memanggil nama adik saya sembari menggebrak kaca meja makan sampai terbelah dua. Mukanya merah padam, kemudian dia berlalu meninggalkan ruang makan. Saat itu saya sadar, Ayah saya memiliki emosi yang menyeramkan untuk dirinya sendiri.
Dahulu saya pernah 'diambekin' Papa ketika jaman SMP atau SMA. Saya juga tidak tahu pasti apa permasalahannya karena hal tersebut termasuk salah satu kejadian yang ingin saya lupakan tapi tetap membekas. Saat itu saya terlibat sebuah perdebatan dengannya dan tanpa sengaja membantah dengan keras kata-katanya dan cenderung membentak. Beliau reflek menghardik saya sampai saya terdiam. Kemudian satu minggu berikutnya kita habiskan dengan perang dingin. Selama satu minggu beliau tidak mau menyapa saya, bahkan tidak ingin menatap ke arah saya. Rasanya seperti neraka, setiap makan bersama beliau selalu menghindari pembicaraan mengenai saya. Satu rumah dibuat kelimpungan dengan insiden ini, Saya juga tidak punya nyali untuk minta maaf kepada beliau karena ego saya. Akhirnya selama seminggu saya menekan ego untuk berangkat sekolah sendiri tidak seperti biasanya yang diantar Papa.
Satu minggu setelah melakukan perang dingin, akhirnya beliau mengajak saya berbicara. Saat itu saya sudah menyiapkan mental saya lahir dan batin untuk dicerca dan dimaki habis-habisan. Namun ternyata yang terlontar dari beliau bukanlah cacian, melainkan nasihat yang mengiris setiap inci dari perasaan saya. Kurang lebih saat itu dia bercerita kepada saya betapa bahagianya ia atas kelahiran saya sebagai anak pertama di keluarga, tentang betapa bangganya ia melihat tumbuh dan kembang sayam betapa bangganya ia ketika saya berhasil menjadi ranking 1 di kelas, menjadi anak yang ceria, sehat dan pintar. Sampai betapa kecewa dan sedihnya ia ketika anaknya yang berharga tiba-tiba membentaknya secara kurang ajar. Hari itu pertama kalinya saya menangis begitu keras sampai dada saya sesak. Sampai kepala saya migrain luar biasa dan mata saya sembab. Disitu saya sadar, saya tidak akan pernah mau mengecewakan beliau lagi, Tidak dengan alasan-alasan bodoh dan tanpa usaha yang maksimal.
Sikap jarang berbicara ayah saya membuat kita jarang sekali mengobrol tentang hal sepele. Kadang malah terasa awkward ketika kita hanya berdua di mobil dan dia tahu dia harus mengajak saya berbicara, tapi dia tidak tahu bagaimana cara memulai pembicaraan, begitupun dengan saya. Kemudian dia akan memutar lagu yang saya suka kemudian akan mulai bernyanyi dengan keras kemudian tertawa ketika nada yang saya nyanyikan ternyata berbeda dari musiknya. Barulah kita memulai pembicaraan kecil kita. Pembicaraan saya dengan Papa lebih banyak tentang renungan hidup dan rencana masa depan saya, kemudian nasehat beliau yang tidak satupun saya lupakan. Sifat beliau yang jarang berbicara ini membuat saya selalu mendengar kata demi katanya. Beberapa nasihat beliau sering saya selipkan di postingan-postingan sebelumnya.
Salah satu nasihat beliau yang saya ingat adalah tentang mencari pasangan. Saat itu saya masih kelas 2 SMA dan memang sudah mulai berpacaran (and Mom knows without me telling her. Mom always knows and it's scary). kemudian beliau bertanya.
"Jadi sekarang Ajeng udah punya pacar? Satu sekolah sama pacarnya?"
"Enggak kok, Pah. Siapa yang pacaran. Gaada kok gaada."
"Ya kalo mau pacaran sih Papa ga larang tapi juga bukan berarti boleh. Mba Ajeng masih kecil kalo menurut Papa."
"Oooh iya. Ga pacaran kok,"
"Kalo mau cari pacar, coba cari yang 4 tahun atau 5 tahun lebih tua. Cari yang bisa ngemong. Kalo nyari yang seumuran yang ada malah kamu yang ngemongin dia. Perempuan itu jauh lebih cepet dewasanya daripada laki-laki. Cari yang bisa jagain kamu."
"Iya, Pa." *mulai depresi soalnya pacar saya waktu itu seumuran*
Simpel sih, tapi sampai sekarang saya selalu ingat. Ternyata selama ini Papa mengamati kepribadian saya yang cenderung jauh lebih tua dari umur saya. Dan masih banyak lagi nasihat beliau yang melekat di kepala saya langsung saat itu juga, ketika beliau berbicara. Berbeda dengan nasihat Ibu saya yang butuh bertahun-tahun untuk dimengerti dan disadari sebagai "Oooh pantesan Mama bilang blablabla."
Hari ini adalah Hari Ayah. Selamat Hari Ayah, ya Pah. Terimakasih sudah selalu menjadi Ayah yang siaga dan sudah membentuk mindset luar biasa di kepala Mba Ajeng. Makasih dulu papa selalu ngajarin Ajeng hal-hal yang seharusnya Papa ajarin ke anak laki-laki (benerin lampu, pasang antena, ganti tabung gas, manjat genteng, dll) dan bikin sekarang Ajeng jadi lebih mandiri pas hidup sendirian. Oh tambahan Pa, sekarang Ajeng udah bisa benerin AC hahaha. Makasih juga Pa udah maksa-maksa ikutan karate meskipun itu menyita Minggu Pagi nonton kartun Ajeng. Sekarang meskipun gapernah dipraktekin secara gamblang, setidaknya ilmu karate Ajeng bisa dipake buat mendobrak pintu kamar kosan temen yang kunci gemboknya ketinggalan di dalem. Selamat ya Pa, akhirnya obsesi punya anak cowok Papa dikabulkan Allah dengan hadirnya dek Zafran di keluarga kita. Sekarang Papa bisa ngajarin Zafran main bola kaki, karena Ajeng lebih suka basket ngikutin Mama, hehe
Panjang banget kalo Ajeng pengen jabarin satu-satu apa yang Ajeng pengen omongin ke Papa. Tapi yang perlu Papa tau adalah Ajeng sayang sama Papa meskipun ga pernah bilang. Makasih udah selalu belain Ajeng kalo berantem sama Mama meskipun akhirnya Papa diambekin sama Mama. Makasih juga Papa selalu paham sama ego dan kekeras kepalaan Ajeng yang gaada obat. Semoga Ajeng punya cukup waktu buat sekedar ngebahagiain Papa nantinya dan bikin Papa selalu bangga sama anak perempuan Papa yang kata papa ndablegnya minta ampun ini.
Doakan Ajeng ya Pa supaya nantinya bisa dapetin pria yang bisa mencintai Ajeng sama seperti luar biasanya Papa cinta sama Ajeng. Tapi Ajeng janji meskipun nanti dia datang dan meminta Ajeng keluar dari rumah kita, Ajeng akan selalu kembali ke rumah untuk cinta pertama Ajeng.
I love you as always, Dad.
Don't you ever worry, because I'll always be your little girl.

0 Comment:
Post a Comment