Before starting this post, I wanna tell you that I'm going to write this post mostly in Indonesian since it's been ages for me not blogging in Indonesian.
Sudah hampir dua bulan sih gue secara rutin menggunakan jasa Commuter Line sebagai transportasi harian gue ke kantor.
Wait...
Let me give you a quick update about my life in the past months.
I am an employee now. Yay!
Alhamdulillah gue sudah mengakhiri masa-masa pengangguran yang sungguh sangat bikin depresi. Gue sekarang bekerja untuk salah satu kementerian yang sangat tersohor. Never did I know that I'll be a part of them. Meskipun belum menjadi pegawai tetapnya, tapi tetep bangga lah bisa bekerja di level itu.
I am back to the Uni for the master degree! Another yay!
Gue akhirnya melanjutkan studi master gue di dalam negeri. Meleset jauh dari rencana awal sih sebenernya, tapi memang mungkin ini jalannya karena gue diterima bekerja di kementerian. Gue melanjutkan studi di jurusan Hubungan Internasional, Universitas Indonesia. I'm taking Master of International Relation simply because I failed my personal international relationship that was one thing I always want to do from the start. Alhamdulillah-nya lagi studi master gue sangatlah nyambung sama kerjaan. So yeah, win-win solution.
So, dikarenakan jarak antara kantor dan kampus itu sangat jauh dan udah beda provinsi. Ditambah lagi kuliah gue jadwalnya weekdays (tapi malem), jadi gue memutuskan buat tinggal di Depok aja (kebetulan kalo pascasarjana HI kampusnya di Depok. huhu jauh shay). Kantor gue itu di Gambir, sementara gue tinggalnya di Depok, otomatis Commuter Line adalah satu-satunya angkutan yang promising dan menghemat banyak sekali waktu. Dari Stasiun UI ke Stasiun Juanda itu jarak tempuh menggunakan kereta kurang lebih hanya 40 menit, sedangkan kalo mau naik busway, nyetir, atau lain-lain yang mesti lewat tol bisa sampe 2 jam-an lebih. Gile kan, bisa-bisa tua di jalan. Jadilah akhirnya gue memutuskan untuk naik kereta aja lah, lebih cepet.
Mungkin untuk mereka yang sudah lama tinggal di Jabodetabek, bermacet-macet ria di jalanan dan desek-desekan di kereta itu adalah hal biasa. Tapi untuk saya yang notabene besar dan lama di daerah hal kayak gini lumayan bikin sinting. Gue sudah berada di jakarta 9 bulanan sekarang, tapi jarang banget make kendaraan umum. Sewaktu masih di Padang juga gitu, jarang banget naik transportasi umum. Bahkan seumur hidup gue baru 3 kali naik TransPadang karena memang gue lebih banyak menggunakan kendaraan pribadi. Sementara di Jakarta ini, untuk nyetir sendiri bukanlah sebuah pilihan yang tepat untuk orang yang buta arah macem gue ini mengingat jalanan di Jakarta belibetnya minta ampun. Salah-salah malah ntar harusnya ke kantor, gue bisa nyasar ampe Tangerang.
Pada akhirnya gue menyerah dan memutuskan untuk membaur di masyarakat dan menggunakan Commuter Line. Pertama kali commuting di Jakarta itu gue inget banget. Waktu itu gue baru mau tes masuk UI sekitar bulan April awal tahun ini. Sebelumnya gue sama sekali gapernah naik kereta apapun. Haha. Jadi hari itu gue harus ke Depok untuk menginap di kosan temen gue karena SIMAK UI jadwalnya pagi banget. Waktu itu gue masih tinggal di Cikarang yang jauhnya minta ampun gara-gara Cikampek macetnya membunuh moral. I've never been in Depok before dan kalaupun pernah gue yakin gue pasti disetirin. Kemudian gue nanya ama temen gue, kalo mau ke sana naik bis apa dan naik dari mana, secara gue dulu masih anak busway banget. Kemudian temen gue menyarankan naik kereta aja, BUT I WAS A VIRGIN (for commuter line). Akhirnya yaudah nekat aja naik kereta dari Stasiun Cawang. Karena biasanya gue kemana-mana di Jakarta naik mobil dan ikut macet-macetan di jalan, gue ngerasa cepet amat nyampe Stasiun UI. Cuma sekitar 30 menitan kemudian udah nyampe aja dong di St. UI. Akhirnya yaudah, gue ketagihan commuting.
Pertama kali commuting itu gue naiknya sekitar jam 11an siang which is masih sepi banget! Little did I know that commuting in rush hours can kill you literally. Hari pertama ke kantor itu gue masih sangat excited sehingga jam 6 pagi udah nyampe di stasiun (di kamus hidup gue 6 pagi itu masih too early for work. lol). I didn't expect that the commuter will be that packed. Hari pertama gue naik commuter line di rush hour, gue naiknya di gerbong khusus wanita. Dan.... Sengit banget sodara-sodara! I was literally squished! Belum lagi sebelum naik kereta mesti sikut-sikutan sama Ibu-Ibu dan Mba-Mba dengan superpower. Asli deh, kalo ada yang mau tahu gimana mematikannya kekuatan Ibu-Ibu, kalian mesti nyobain naik di gerbong cewek.
Day 1 commuting in Jakarta, I thought my ribs were broken.
Kapok banget asli deh gue naik di gerbong cewek. Bukannya apa-apa sih, gue ngeri aja nyampe kantor gue mesti di gips. Akhirnya gue menyerah, besoknya gue naik di gerbong campur. Pertama kali gue naik gerbong campur sih sama sekali gaada masalah. Malahan orang-orang jauh lebih considerate dibanding di gerbong cewek. Everything was so fine, until I need to deal with those random boners. Pfftt
If you guys ever saw the video about how packed the train in Japan on rush hour that the officer needs to push people or shoving them in the train, it is the same situation here in Jakarta. Especially kereta dari Bogor. Sebagai orang yang punya social anxiety di mana ketika ada stranger yang intervensi personal space gue, gue akan gampang panik, commuting ini adalah tantangan tersendiri. Gimana enggak, di dalem kereta jarak satu orang ke orang lain bisa sama sekali ga ada. Lu bakalan nempel banget ama orang-orang di sekitar physically. Awalnya gue agak stress tapi lama-lama jadi pasrah aja udah, emang keadaannya gabisa dielakkan lagi. Lama-lama gue jadi mulai terbiasa.
BUT, namanya juga di gerbong campur yang banyak bapak-bapak dan cowok-cowok otomatis lu orang punya badan juga nempel-nempel ke mereka saking gaadanya lagi ruang kosong. Gue selalu mengambil posisi menghadap ke pintu (karena kalo membelakangi pintu ya hadep-hadepan dong ama mereka). Being taller that common people can be a blessed and cursed in the same time. Positifnya gue masih bisa napas dan ga diketek-ketekin orang-orang. Negatifnya adalah karena gue tinggi dan kebanyakan sama tinggi ama cowok-cowok lain, I can't help it that my butt is on the same level as their crouch. Things are being an issue when di kereta you nempel banget and you guys can't help it that your body being rubbed against each other and I can feel their little junior getting excited back then. I know that guys can't control that, but still I feel super uncomfortable. There are some possibilities where they have no intention and it just happened OR some of them are simply perverts.
I don't want to be more stressed out with the fact that I need to deal with random boner around me every freaking day so I was surrendered. Gue kembali memilih naik di gerbong cewek dengan segala persaingan sengitnya. Ketimbang gue mesti suudzon dan merasa dilecehkan, gue lebih memilih terjun ke medan perangnya buibuk. I become tougher and tougher every single day. Ketika ada yang nyikut gue secara sengaja, gue akan bales nyikut lebih kenceng. Untuk pertama kalinya di hidup gue, gue merasa ga sia-sia dulu pernah belajar Karate. But I never expect to use it against buibuk, tho.
Sekarang sudah hampir dua bulan gue commuting. Untuk saat ini gue mulai menikmati segala kesengitannya. Bahkan gue mulai menikmati ketika gravitasi di gerbong cewek mencapai titik 0 (ketika kereta condong ke kiri kita semua ke kiri, ketika keretanya ke kanan semuanya ke kanan). Gue jadi menganggap naik commuter line udah kayak naik wahana di Dufan, thrilling.
Kalo naik kereta, gausah pada pake tas atau sepatu mahal-mahal deh. Please leave your 3 million bags or your brand new Zara Shoes at home! Karena sayang aja gitu kegencet-gencet di kereta. Another thing I know girls can relate is you are too busy to protect your boobies. LOL. As a girl whose boobies aren't considered as enormous (mine is an okay I think. lol) I have a hard time to protect them for not being squeezed because it's freaking hurt you fools! Apalagi kalo pas lagi dapet dan badan mendadak sensitif, kesenggol dikit aja nyerinya luar biasa #GirlsNumberOneProblem
Commuting everyday here in Jakarta teaches me many things. Bagaimana semua orang di sini hidupnya berjuang untuk mencari nafkah. Desek-desekan tiap hari, belom lagi pulang udah malem tetep gabisa duduk. Gue juga bertemu banyak orang-orang baik yang rela menyerahkan tempat duduk mereka ke yang lebih tua, meskipun keliatannya jarak umurnya ga terlalu jauh. Yang paling penting suasana commuting itu menunjukkan betapa kerasnya hidup di Jakarta, dan gue sebagai yang masih sangat muda jangan mau kalah semangatnya sama mereka yang lebih tua. Yang gue salut adalah mereka yang lagi hamil besar masih bela-belain naik commuter buat kerja, atau mereka yang bawa balita (meskipun kadang gue agak sedikit kontra sih sama mereka yang bawa bayi merah naik kereta di rush hour. But we never know people's story. Maybe they have no choice).
Meskipun begitu tetep aja gue ketemu beberapa orang yang I considered as rude people. Misalnya mereka yang pura-pura hamil atau pura-pura ketiduran supaya bisa duduk. Atau ibu-ibu yang suka nyeletuk "Ada yang hamil lagi ya? Yaelah bikin ribet aja. Susah nih lewatnya!" Memang lah ya, ibu-ibu itu bisa jadi makhluk yang paling mulia hatinya dan bisa juga jadi yang paling jahat mulutnya. Gue berdoa aja kelak ketika gue sudah menjadi ibu-ibu akan dijauhkan dari segala sifat yang jahat kayak gitu. Amit-amit.
Atau minimal ketika gue sudah jadi ibu-ibu gue bisa beli apartemen sebelahan ma kantor biar gausah naik kereta dan nyinyirin orang sekitar gue. Amin.
Sudah ya, gue kudu tidur karena besok itu Harpitnas dan tetep masih ngantor. Huhu
Anyway, hari ini HUT ke 72 Republik Indonesia. Ga perlulah pamer-pamer ngepost tentang Indonesia biar dikira Nasionalis kalo disuruh upacara 17-an aja kalian masih pada males-malesan!
Dirgahayu Indonesiaku!
1
