6/3/14

ALFA

Ajeng Novia Anggraini
Sore itu, aku kembali bertemu dengannya atau lebih tepatnya, kita memutuskan untuk kembali bertemu lagi. Ini pertemuan pertama kami semenjak dua tahun terakhir ini. Tidak banyak yang berubah dari kami sore itu. Kami tetap menjalani ritual kedai kopi kami di mana dia dengan kepulan asap kopi robustanya dan aku dengan apapun minuman selain kopi yang bisa ku tenggak saat itu. Bedanya, sore ini kami bukan lagi sepasang kekasih seperti dua tahun yang lalu.
*****
“Elo nembak gue, Fa? Demi apaa?”
“Iya, kenapa? Elo gamau?”
“yaa…. Tapi ga segampang itu kan? Elo ngajakin jadian udah kayak ngajakin beli gorengan. Gue ga segampang itu tau!”
“iya, gue tau gue gabisa romantis kayak cowok-cowok ababil lo itu.”
Sontak aku menjadi sewot dan memasang mimik cemberut terbaikku kala itu. Tapi tidak bisa kupungkiri, saat itu ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutku saat Alfa memintaku untuk menjadi pacarnya dengan gaya cueknya. Ingin rasanya aku berteriak dan melompat-lompat kegirangan kala itu. Terima kasih Tuhan, rasa yang selama ini aku sembunyikan ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
*****
Aku terduduk di teras rumahku sembari membaca kembali pesan terakhir yang kukirimkan kepada Alfa. Lututku mendadak lemas, badanku rasanya panas dingin, panas mulai menjalari mata dan pipiku. Tiba-tiba saja aku tidak lagi sanggup membendung air mataku kala mendapat balasan pesanku dari Alfa. Alfa mengiyakan ajakanku. Hari itu hubungan kami berdua sebagai kekasih resmi berakhir.

*****
It is so easy to see dysfunction between you and me
We must free-up this tired soul before the sadness kills us both
I tried and tried to let you know I love you but I’m letting go
It may not last but I don’t know, just don’t know
******
Sebenarnya aku dan Alfa sempat bertemu setahun yang lalu di acara reuni SMA namun sepertinya Alfa masih marah kepadaku, malah kelihatannya cenderung membenciku. Semenjak kepindahannya ke Aussie untuk melanjutkan kuliah, ia sudah tidak pernah lagi mengabariku. Kala itu aku benar-benar tidak berdaya, aku sadar semua memang salahku. Menolak mempertaruhkan masa depan hubungan kami kepada jarak yang membentang ratusan ribu kilometer. Tapi apalah dayaku, aku hanyalah seorang gadis yang terlalu takut melawan hukum alam yang nantinya akan diperkeruh jarak.
*****
So how was your life going?
Pretty good. Gimana Aussie?”
“Aussie keren, aku dapat banyak pengalaman di sana.”
Kemudian hening yang sangat panjang pun mendominasi. Aku memainkan sedotan Oreo Milkshake-ku, olah tubuh yang biasa kulakukan ketika canggung.
“Cewek Aussie pasti keren-keren ya? Cantik-cantik, modis lagi. Aku sering baca gitu di Internet.”
You read about Aussie? Why?”
”Nope. Just being curious with that.” Aku rasa pipiku pasti memerah saat ini.
“Kamu masih peduli sama aku, Ca?” wajahnya tiba-tiba serius menatap kamu.
“ya enggaklah. Geer banget kamu. Aku tuh cuma iseng aja. Is that really matter?” aku merasa sangat terpojok dengan pertanyaannya barusan.
Kemudian cowok berambut sedikit gondrong ini kembali serius menghadap laptopnya. Aku merasa diabaikan dan membuatku kesal, tapi aku tidak berani lagi merengek-rengek padanya kali ini. Aku sadar betul semuanya telah berubah di antara kami. Dia pasti tidak akan membujukku untuk berhenti merajuk kali ini.
Aku sungguh bosan dengan keheningan yang tercipta ini, belum lagi minumanku sudah hampir habis. Aku ingin berbincang dengannya maka untuk itulah aku di sini. Aku sangat merindukannya. Perlu aku tekankan sekali lagi aku rindu padanya. Persetan dengan ego yang menginjak-injak gengsiku kini jauh di dalam diriku, yang jelas aku sungguh ingin memperbaiki kerenggangan hubunganku dengannya. Hubungan pertemananku lebih tepatnya.
Aku memperhatikan lagi lelaki yang berada di sampingku ini. Ah lelaki brengsek ini. Bagaimana mungkin aku bisa begitu terperdaya olehnya. Lelaki ini sanggup membuatku menyandang gelar jomblo terkutuk selama dua tahun terakhir ini. Bukan, bukan karena aku tidak cantik dan lain-lain, maksudku, hey siapa yang tidak kenal Frisca Adinda Sekar, tapi memang hatiku tidak bisa dibawa bermain-main di sembarang kisah cinta. Hatiku sudah terlanjur dirantai si brengsek ini. Si brengsek yang sayangnya sampai saat ini mampu membuatku mengacuhkan setiap lelaki yang datang menghampiriku.
****

*bersambung sampai gue dapet ide yang bagus untuk melanjutkan cerita ini lagi. Hihi doakan yaa guys!*

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism

Distributed By Gooyaabi Templates