11/11/15

Tentang Pria yang Saya Cintai Secara Utuh

Ajeng Novia Anggraini
Postingan kali ini akan bercerita tentang rasa kagum saya pada seorang pria. Mungkin kita bisa mengatakan ini adalah cinta pertama, karena sampai sekarang perasaan saya terhadapnya masih tetap sama, membekas dan akan saya kenang selamanya.

Pria ini memberikan saya begitu banyak pelajaran berharga dalam hidup saya. Pria yang sabar dan telaten dalam menghadapi ego saya yang sebesar gunung. Pria yang juga paling bisa meng-handle sifat keras kepala saya. Kepadanya saya tunduk, kepadanya saya patuh. Tidak satupun kata-katanya yang tidak saya dengarkan, karena saya tidak ingin mengecewakannya. Saya sangat mencintainya sampai saya tidak ingin ia kecewa meskipu tentunya sering kali secara tidak sadar saya melakukannya. Tapi ternyata sesering itu pula ia memaafkan. Sampai hari ini saya belum memiliki alasan untuk berhenti mencintainya, dan saya yakin dia pun begitu. Karena saya tahu pasti seberapa besar rasa cintanya pada saya.

Ya, pria ini adalah orang yang selama 21 tahun di hidup saya telah saya panggil Papa. Ayah saya, teman saya, pendukung finansial saya, bodyguard saya, satu-satunya pria yang mencintai saya tanpa alasan maupun pamrih. Dia Ayah saya, Ir. Bambang Winarto. Pria yang saya cintai secara utuh dan tanpa cela.

Dia bukanlah seorang pria hebat dan sangat terpandang. Dia tidak memakai setelan jas sebagai pakaian sehari-harinya. Dia bukanlah anak pejabat tinggi seperti layaknya Ibu saya. Dia juga tidak mengambil jenjang pendidikan yang lebih tinggi dari sekedar gelar Insinyur-nya. Sungguh, di mata orang lain dia hanyalah pria biasa, tidak ada yang istimewa, Tapi beliau sangatlah luar biasa di mata saya.

Sebagai seorang Ayah, tentunya beliau tidaklah memiliki figur yang sesempurna itu. Tak jarang juga beliau membuat saya kesal hanya karena dengan tidak sengaja merokok di depan saya, hal yang membuat saya sesak napas sampai beberapa jam kemudian. Atau dengan tidak mengingat hal-hal trivia yang saya miliki. Tapi tetap, itu semua tidak cukup memberi alasan untuk saya berhenti mencintainya.

Di mata kerabat dan suadaranya, sosoknya adalah orang yang sangat pendiam, jarang mengeluarkan kata-kata ataupun hanya berbicara sekenanya. Malahan beliau dianggap galak dan ditakuti keponakannya. Saya mengamini sifat pendiam Ayah saya sebagai bentuk opposit dari sifat Ibu saya yang cerewet dan selalu punya bahan obrolan setiap waktu (ya, saya mewarisi sifat ini langsung dari Ibu saya), tapi beliau sama sekali tidak menakutkan (atau mungkin karena Ibu saya lebih menakutkan? LOL). Di mata saya, Ayah saya memiliki wibawa yang begitu tinggi, tapi tidak pernah mengomel tentang hal yang sepele. Beliau juga jarang terlihat emosi, dan di 21 tahun umur saya, saya baru sekali melihat beliau marah kepada adik perempuan saya. Saat itu ia tidak berteriak dengan keras atau memukul adik saya, atau yang lainnya. Beliau hanya memanggil nama adik saya sembari menggebrak kaca meja makan sampai terbelah dua. Mukanya merah padam, kemudian dia berlalu meninggalkan ruang makan. Saat itu saya sadar, Ayah saya memiliki emosi yang menyeramkan untuk dirinya sendiri.

Dahulu saya pernah 'diambekin' Papa ketika jaman SMP atau SMA. Saya juga tidak tahu pasti apa permasalahannya karena hal tersebut termasuk salah satu kejadian yang ingin saya lupakan tapi tetap membekas. Saat itu saya terlibat sebuah perdebatan dengannya dan tanpa sengaja membantah dengan keras kata-katanya dan cenderung membentak. Beliau reflek menghardik saya sampai saya terdiam. Kemudian satu minggu berikutnya kita habiskan dengan perang dingin. Selama satu minggu beliau tidak mau menyapa saya, bahkan tidak ingin menatap ke arah saya. Rasanya seperti neraka, setiap makan bersama beliau selalu menghindari pembicaraan mengenai saya. Satu rumah dibuat kelimpungan dengan insiden ini, Saya juga tidak punya nyali untuk minta maaf kepada beliau karena ego saya. Akhirnya selama seminggu saya menekan ego untuk berangkat sekolah sendiri tidak seperti biasanya yang diantar Papa.

Satu minggu setelah melakukan perang dingin, akhirnya beliau mengajak saya berbicara. Saat itu saya sudah menyiapkan mental saya lahir dan batin untuk dicerca dan dimaki habis-habisan. Namun ternyata yang terlontar dari beliau bukanlah cacian, melainkan nasihat yang mengiris setiap inci dari perasaan saya. Kurang lebih saat itu dia bercerita kepada saya betapa bahagianya ia atas kelahiran saya sebagai anak pertama di keluarga, tentang betapa bangganya ia melihat tumbuh dan kembang sayam betapa bangganya ia ketika saya berhasil menjadi ranking 1 di kelas, menjadi anak yang ceria, sehat dan pintar. Sampai betapa kecewa dan sedihnya ia ketika anaknya yang berharga tiba-tiba membentaknya secara kurang ajar. Hari itu pertama kalinya saya menangis begitu keras sampai dada saya sesak. Sampai kepala saya migrain luar biasa dan mata saya sembab. Disitu saya sadar, saya tidak akan pernah mau mengecewakan beliau lagi, Tidak dengan alasan-alasan bodoh dan tanpa usaha yang maksimal.

Sikap jarang berbicara ayah saya membuat kita jarang sekali mengobrol tentang hal sepele. Kadang malah terasa awkward ketika kita hanya berdua di mobil dan dia tahu dia harus mengajak saya berbicara, tapi dia tidak tahu bagaimana cara memulai pembicaraan, begitupun dengan saya. Kemudian dia akan memutar lagu yang saya suka kemudian akan mulai bernyanyi dengan keras kemudian tertawa ketika nada yang saya nyanyikan ternyata berbeda dari musiknya. Barulah kita memulai pembicaraan kecil kita. Pembicaraan saya dengan Papa lebih banyak tentang renungan hidup dan rencana masa depan saya, kemudian nasehat beliau yang tidak satupun saya lupakan. Sifat beliau yang jarang berbicara ini membuat saya selalu mendengar kata demi katanya. Beberapa nasihat beliau sering saya selipkan di postingan-postingan sebelumnya.

Salah satu nasihat beliau yang saya ingat adalah tentang mencari pasangan. Saat itu saya masih kelas 2 SMA dan memang sudah mulai berpacaran (and Mom knows without me telling her. Mom always knows and it's scary). kemudian beliau bertanya.
"Jadi sekarang Ajeng udah punya pacar? Satu sekolah sama pacarnya?"
"Enggak kok, Pah. Siapa yang pacaran. Gaada kok gaada."
"Ya kalo mau pacaran sih Papa ga larang tapi juga bukan berarti boleh. Mba Ajeng masih kecil kalo menurut Papa."
"Oooh iya. Ga pacaran kok,"
"Kalo mau cari pacar, coba cari yang 4 tahun atau 5 tahun lebih tua. Cari yang bisa ngemong. Kalo nyari yang seumuran yang ada malah kamu yang ngemongin dia. Perempuan itu jauh lebih cepet dewasanya daripada laki-laki. Cari yang bisa jagain kamu."
"Iya, Pa." *mulai depresi soalnya pacar saya waktu itu seumuran*
Simpel sih, tapi sampai sekarang saya selalu ingat. Ternyata selama ini Papa mengamati kepribadian saya yang cenderung jauh lebih tua dari umur saya. Dan masih banyak lagi nasihat beliau yang melekat di kepala saya langsung saat itu juga, ketika beliau berbicara. Berbeda dengan nasihat Ibu saya yang butuh bertahun-tahun untuk dimengerti dan disadari sebagai "Oooh pantesan Mama bilang blablabla."

Hari ini adalah Hari Ayah. Selamat Hari Ayah, ya Pah. Terimakasih sudah selalu menjadi Ayah yang siaga dan sudah membentuk mindset luar biasa di kepala Mba Ajeng. Makasih dulu papa selalu ngajarin Ajeng hal-hal yang seharusnya Papa ajarin ke anak laki-laki (benerin lampu, pasang antena, ganti tabung gas, manjat genteng, dll) dan bikin sekarang Ajeng jadi lebih mandiri pas hidup sendirian. Oh tambahan Pa, sekarang Ajeng udah bisa benerin AC hahaha. Makasih juga Pa udah maksa-maksa ikutan karate meskipun itu menyita Minggu Pagi nonton kartun Ajeng. Sekarang meskipun gapernah dipraktekin secara gamblang, setidaknya ilmu karate Ajeng bisa dipake buat mendobrak pintu kamar kosan temen yang kunci gemboknya ketinggalan di dalem. Selamat ya Pa, akhirnya obsesi punya anak cowok Papa dikabulkan Allah dengan hadirnya dek Zafran di keluarga kita. Sekarang Papa bisa ngajarin Zafran main bola kaki, karena Ajeng lebih suka basket ngikutin Mama, hehe

Panjang banget kalo Ajeng pengen jabarin satu-satu apa yang Ajeng pengen omongin ke Papa. Tapi yang perlu Papa tau adalah  Ajeng sayang sama Papa meskipun ga pernah bilang. Makasih udah selalu belain Ajeng kalo berantem sama Mama meskipun akhirnya Papa diambekin sama Mama. Makasih juga Papa selalu paham sama ego dan kekeras kepalaan Ajeng yang gaada obat. Semoga Ajeng punya cukup waktu buat sekedar ngebahagiain Papa nantinya dan bikin Papa selalu bangga sama anak perempuan Papa yang kata papa ndablegnya minta ampun ini.

Doakan Ajeng ya Pa supaya nantinya bisa dapetin pria yang bisa mencintai Ajeng sama seperti luar biasanya Papa cinta sama Ajeng. Tapi Ajeng janji meskipun nanti dia datang dan meminta Ajeng keluar dari rumah kita, Ajeng akan selalu kembali ke rumah untuk cinta pertama Ajeng.

I love you as always, Dad.
Don't you ever worry, because I'll always be your little girl.



11/7/15

Ketika Semesta Mengajak Bercanda

Ajeng Novia Anggraini
"Ya jangan terlalu dianggep serius lah, Nong. Jadiin TTM aja dulu, kita kan gatau ke depannya gimana. Kalau ternyata dia cuma main-main gimana?"

Itu kalimat yang terlontar dari salah seorang sahabat di kala gue memberanikan diri untuk bercerita tentang kedekatan gue dengan seseorang dari masa lalu. Sejujurnya saat itu gue cukup kecewa dengan jawaban beliau. Malahan gue berpikiran "Ih kok bukannya didukung sih? :(" tapi sebagai salah satu orang yang sudah berada di samping gue selama 4 tahun terakhir dan sudah tau setiap inci pemikiran gue, her choice is to tell me the ugly truth even if I don't want to hear that.

Sebagai orang yang keras kepala dan punya ego yang lebih besar daripada hutang negara, gue sangatlah jarang mau mendengar omongan orang lain. Buat gue, orang lain cuma bisa memberi opini berdasarkan apa yang mereka lihat, dan apa yang mereka lihat terkadang hanyalah bagian-bagian kecil dari kenyataan yang ada. So, I don't even give a fuck about people's opinion. I mean like I'd love to hear your opinion about me or everything, but I have my own too. I'd never insult you with your opinion as long as you don't insult mine. Tapi sekalinya gue percaya dan memang mau dengerin nasehat orang lain, gue bakal bener-bener nurut like a puppy. Dan orang yang tadi gue sebutkan di atas adalah salah satu orang terpilih.

Meskipun pada awalnya gue merasa kalau apa yang gue lakukan benar, tapi dengan datangnya opini dari beliau, I start to put my self on a guard. Gue gabisa memungkiri rasa nyaman yang gue dapat dari dia yang saat itu (bahkan mungkin sampai sekarang masih) dekat dengan gue. He is someone from the past. He used to love me that much but I never realized that he did until one day he left. Ya, kita memang akan selalu menyadari bahwa apa yang kita miliki sebenarnya sangat berharga ketika hal itu sudah lagi tidak ada di hidup kita. That's exactly what happened.

Saat dia kembali lagi hadir di hidup gue, gue juga gabisa ngebohongin diri gue sendiri kalo gue seneng. Banget. Meskipun dari awal gue sadar, memang waktunya sangat-sangat tidak tepat. That was the worst timing after all of the time (Why God Why?). He came back after long time. Bleeding. Feeling betrayed. Broken. Lose his faith. Pada awalnya gue belum merasa apapun, sebab pada saat itu gue masih memposisikan diri sebagai seorang teman, seorang sahabat, seseorang yang harusnya membantu dia untuk kembali bangkit dan menyusun kembali puing-puing dalam dirinya yang hancur remuk dan berantakan. Seharusnya begitu, sampai semesta berkata lain.

Dia memanglah bukan orang asing bagi gue, I've known him since...... forever :)) We used to be a friend, then a lover, then a sudden stranger, then be friend again, then being a super mega bestfriend, then we've never contacted each other for the past 2 years (?) Jadi menyambutnya kembali di kehidupan gue seharusnya bukanlah hal yang asing lagi. Dan memang tidak. Karena dia kembali sebagai orang yang sama seperti orang yang sudah gue kenal belasan tahun yang lalu. I'm glad that he's back as the person that I always be familiar.

Menghabiskan waktu untuk sekedar bercerita tentang betapa pahitnya patah hati, terlebih dikhianati oleh orang yang kita percaya. Ini bukan sekedar perasaan marah, namun lebih kepada rasa kecewa. I can feel him because I was in his shoes. Kecewa bukanlah hal yang mudah untuk diobati. Ketika seseorang marah, minta maaf adalah jalan untuk memperbaiki keadaan. Namun ketika seseorang kecewa, bahkan ribuan kata maaf pun tidak akan bisa mengobati rasa kecewanya. Saat itu gue berkali-kali mengingatkan diri, "You can't mess up with your feeling. Not to him, because you know it's wrong. Totally wrong." Tapi apalah daya gue, bukankah cinta memang sesuatu yang abstrak dan tidak tertebak apalagi terkontrol? Yea, and it's coming. Straight to my weak heart.

If you ask me, secepat itukah? Ya memang. Karena banyak faktor pemicu yang membuat semuanya menjadi berjalan sangat amat cepat. Maybe because I adore him. I can fall easily to a smart person, and he is. He used to be my favorite person to talk (dan gue rasa masih). Ketika ada orang yang bisa gue ajak berdebat berjam-jam atau mebahas hal-hal yang gue rasa ga bisa gue bicarakan dengan orang biasa (self bragging: kadang pemikiran gue suka absurd dan ajaib), gue akan sangat mudah untuk mengagumi (for me, adoring someone could lead into 'something'. You name it. LOL). But still, I try to keep my head straight. The thing is I can't keep my self thinking rationally. At the point I know that, Damn I'm into him for some un-explain-able reason.Yha, serumit itu pada akhirnya.

You'll know the struggle when you (let's just say) fall in love (atau hanya terbiasa. Shoo, I don't even know what it is) again with someone who's just broke up with his 4 years girlfriend and also he is also literally (and obviously) your ex. I hope one day you guys will know the feeling because it's just too confusing and stressed me to the hella out :))

Semakin ke sini semakin membingungkan, karena semakin ke sini gue semakin gatau mesti ngapain. Should I just stay and fix it what I've ruined (re: my stupid hella feeling), or should I just go because I think he'll be okay (whether he probably will move on or will make up with her ex, I mean that ex, not me. ROTFL)? The things that I know is that I can't just go because of whatever it is inside my heart and my mind, but it'll be too hurt for me to stay in this situation.

Well yea, I'm not trying to be an attention whore for write it here (trust me I don't want to, but if it looks like it is later, I'll probably delete it later after I realized "Whats wrong with me to write this crap?!"). I write it just because..........





...........




I ran out of my diary pages :))


No, it's not because I want the entire world knows about this shitty confusing thing happened to me, OR I want his attention for me. NO. NOT AT ALL. So I'm sorry if later this post will be offended someone. Trust me I just want to share it just because... (I can't find any words, damn it)

Jika kembali ke awal tentang pendapat sahabat gue tentang apa yang menurut dia haruskan gue lakukan, maka kesimpulannya adalah:
  1. I obviously didn't obey the words of mine who said "enggak kok, ga baper amat sih. buat lucu-lucuan aja. It's just to activate my broken love cells who never worked anymore" yang dilanjutkan dengan cibiran dari sahabat gue :)) karena pada kenyataanya, I did baper and I know later you'll scold me because I didn't listen. I know. My bad. I'll handle it.
  2. You just can't control the feeling. And yes, you'll never know what the future holds including my story and HIS story later. Karena Tuhan Maha membolak-balikkan perasaan manusia. It does happen to me and people around me.
  3. I don't even know how will this story ends and it confuses me as same as I confuse how will I end this post :(
Okay for now, let's just end this post with no incredible words or amazing quotes because my mind is in a mess so I couldn't think anything good to end this post. Tapi percayalah, ketika semesta mulai bermain-main dengan perasaanmu dan mengajak bercanda dengan masa lalumu, you have nothing more than to just throw a bitter laugh.

Oh ya, seandainya ntar mantan gue baca postingan ini, tolong beritahu bahwa: hei, mantan gue bukan cuma elo doang! :p



Terimakasih semesta untuk selalu mencoba lucu meskipun terkadang pahit! :'D

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism

Distributed By Gooyaabi Templates