"Ya jangan terlalu dianggep serius lah, Nong. Jadiin TTM aja dulu, kita kan gatau ke depannya gimana. Kalau ternyata dia cuma main-main gimana?"
Itu kalimat yang terlontar dari salah seorang sahabat di kala gue memberanikan diri untuk bercerita tentang kedekatan gue dengan seseorang dari masa lalu. Sejujurnya saat itu gue cukup kecewa dengan jawaban beliau. Malahan gue berpikiran "Ih kok bukannya didukung sih? :(" tapi sebagai salah satu orang yang sudah berada di samping gue selama 4 tahun terakhir dan sudah tau setiap inci pemikiran gue, her choice is to tell me the ugly truth even if I don't want to hear that.
Sebagai orang yang keras kepala dan punya ego yang lebih besar daripada hutang negara, gue sangatlah jarang mau mendengar omongan orang lain. Buat gue, orang lain cuma bisa memberi opini berdasarkan apa yang mereka lihat, dan apa yang mereka lihat terkadang hanyalah bagian-bagian kecil dari kenyataan yang ada. So, I don't even give a fuck about people's opinion. I mean like I'd love to hear your opinion about me or everything, but I have my own too. I'd never insult you with your opinion as long as you don't insult mine. Tapi sekalinya gue percaya dan memang mau dengerin nasehat orang lain, gue bakal bener-bener nurut like a puppy. Dan orang yang tadi gue sebutkan di atas adalah salah satu orang terpilih.
Meskipun pada awalnya gue merasa kalau apa yang gue lakukan benar, tapi dengan datangnya opini dari beliau, I start to put my self on a guard. Gue gabisa memungkiri rasa nyaman yang gue dapat dari dia yang saat itu (bahkan mungkin sampai sekarang masih) dekat dengan gue. He is someone from the past. He used to love me that much but I never realized that he did until one day he left. Ya, kita memang akan selalu menyadari bahwa apa yang kita miliki sebenarnya sangat berharga ketika hal itu sudah lagi tidak ada di hidup kita. That's exactly what happened.
Saat dia kembali lagi hadir di hidup gue, gue juga gabisa ngebohongin diri gue sendiri kalo gue seneng. Banget. Meskipun dari awal gue sadar, memang waktunya sangat-sangat tidak tepat. That was the worst timing after all of the time (Why God Why?). He came back after long time. Bleeding. Feeling betrayed. Broken. Lose his faith. Pada awalnya gue belum merasa apapun, sebab pada saat itu gue masih memposisikan diri sebagai seorang teman, seorang sahabat, seseorang yang harusnya membantu dia untuk kembali bangkit dan menyusun kembali puing-puing dalam dirinya yang hancur remuk dan berantakan. Seharusnya begitu, sampai semesta berkata lain.
Dia memanglah bukan orang asing bagi gue, I've known him since...... forever :)) We used to be a friend, then a lover, then a sudden stranger, then be friend again, then being a super mega bestfriend, then we've never contacted each other for the past 2 years (?) Jadi menyambutnya kembali di kehidupan gue seharusnya bukanlah hal yang asing lagi. Dan memang tidak. Karena dia kembali sebagai orang yang sama seperti orang yang sudah gue kenal belasan tahun yang lalu. I'm glad that he's back as the person that I always be familiar.
Menghabiskan waktu untuk sekedar bercerita tentang betapa pahitnya patah hati, terlebih dikhianati oleh orang yang kita percaya. Ini bukan sekedar perasaan marah, namun lebih kepada rasa kecewa. I can feel him because I was in his shoes. Kecewa bukanlah hal yang mudah untuk diobati. Ketika seseorang marah, minta maaf adalah jalan untuk memperbaiki keadaan. Namun ketika seseorang kecewa, bahkan ribuan kata maaf pun tidak akan bisa mengobati rasa kecewanya. Saat itu gue berkali-kali mengingatkan diri, "You can't mess up with your feeling. Not to him, because you know it's wrong. Totally wrong." Tapi apalah daya gue, bukankah cinta memang sesuatu yang abstrak dan tidak tertebak apalagi terkontrol? Yea, and it's coming. Straight to my weak heart.
If you ask me, secepat itukah? Ya memang. Karena banyak faktor pemicu yang membuat semuanya menjadi berjalan sangat amat cepat. Maybe because I adore him. I can fall easily to a smart person, and he is. He used to be my favorite person to talk (dan gue rasa masih). Ketika ada orang yang bisa gue ajak berdebat berjam-jam atau mebahas hal-hal yang gue rasa ga bisa gue bicarakan dengan orang biasa (self bragging: kadang pemikiran gue suka absurd dan ajaib), gue akan sangat mudah untuk mengagumi (for me, adoring someone could lead into 'something'. You name it. LOL). But still, I try to keep my head straight. The thing is I can't keep my self thinking rationally. At the point I know that, Damn I'm into him for some un-explain-able reason.Yha, serumit itu pada akhirnya.
You'll know the struggle when you (let's just say) fall in love (atau hanya terbiasa. Shoo, I don't even know what it is) again with someone who's just broke up with his 4 years girlfriend and also he is also literally (and obviously) your ex. I hope one day you guys will know the feeling because it's just too confusing and stressed me to the hella out :))
Semakin ke sini semakin membingungkan, karena semakin ke sini gue semakin gatau mesti ngapain. Should I just stay and fix it what I've ruined (re: my stupid hella feeling), or should I just go because I think he'll be okay (whether he probably will move on or will make up with her ex, I mean that ex, not me. ROTFL)? The things that I know is that I can't just go because of whatever it is inside my heart and my mind, but it'll be too hurt for me to stay in this situation.
Well yea, I'm not trying to be an attention whore for write it here (trust me I don't want to, but if it looks like it is later, I'll probably delete it later after I realized "Whats wrong with me to write this crap?!"). I write it just because..........
...........
I ran out of my diary pages :))
No, it's not because I want the entire world knows about this shitty confusing thing happened to me, OR I want his attention for me. NO. NOT AT ALL. So I'm sorry if later this post will be offended someone. Trust me I just want to share it just because... (I can't find any words, damn it)
Jika kembali ke awal tentang pendapat sahabat gue tentang apa yang menurut dia haruskan gue lakukan, maka kesimpulannya adalah:
- I obviously didn't obey the words of mine who said "enggak kok, ga baper amat sih. buat lucu-lucuan aja. It's just to activate my broken love cells who never worked anymore" yang dilanjutkan dengan cibiran dari sahabat gue :)) karena pada kenyataanya, I did baper and I know later you'll scold me because I didn't listen. I know. My bad. I'll handle it.
- You just can't control the feeling. And yes, you'll never know what the future holds including my story and HIS story later. Karena Tuhan Maha membolak-balikkan perasaan manusia. It does happen to me and people around me.
- I don't even know how will this story ends and it confuses me as same as I confuse how will I end this post :(
Okay for now, let's just end this post with no incredible words or amazing quotes because my mind is in a mess so I couldn't think anything good to end this post. Tapi percayalah, ketika semesta mulai bermain-main dengan perasaanmu dan mengajak bercanda dengan masa lalumu, you have nothing more than to just throw a bitter laugh.
Oh ya, seandainya ntar mantan gue baca postingan ini, tolong beritahu bahwa: hei, mantan gue bukan cuma elo doang! :p
Terimakasih semesta untuk selalu mencoba lucu meskipun terkadang pahit! :'D
0 Comment:
Post a Comment