7/27/18

Berdoa, Bersabar, Bersyukur

Ajeng Novia Anggraini
Siang ini gabut luar biasa. Barusan habis selesai makan siang di luar kantor dan mendapati badan rasanya lumer di bawah terik matahari Jakarta. Sesampainya kembali di ruangan kerja seakan ingin memeluk AC sekaligus berkata: "Tuhan terimakasih sudah membantu manusia menciptakan AC yang dingin kayak gini."

"Dasar lebay!"
Kemudian saya termenung sebentar karena sadar akan jarangnya saya bersyukur kepada Tuhan akhir-akhir ini. Padahal begitu banyak hal menyenangkan mulai dari hal kecil yang tidak terlalu berasa efeknya sampai hal besar yang dikaruniai Tuhan yang akhirnya akan mengubah cerita hidup saya di masa yang akan datang.

I feel horrible. Betapa sering saya mengeluh kepada Tuhan atas hal-hal yang terjadi di luar keinginan saya. Atas hal-hal yang Tuhan selipkan guna membuat saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara yang kadang kurang menyenangkan. Namun terkadang saya selalu lupa bersyukur atas doa-doa saya yang satu persatu dikabulkan oleh-Nya.

Kalau kita berdoa sama Tuhan itu, jawabannya cuma iya. Iya, tapi nanti bukan sekarang saatnya. Iya, tapi diganti yang lain yaa bukan yang ini. Iya, tapi dengan usaha yang lebih dari ini.
Setelah saya renungkan lagi, gue sangat sering berdoa. Uhm, mungkin lebih ke-menuntut Tuhan untuk memberikan hal sesuai keinginan saya dan dengan cara paling menyenangkan bagi saya. Bahkan tidak jarang saya berdoa untuk hal-hal sepele dan muluk-muluk, tapi pada akhirnya Tuhan mengabulkan. Meskipun waktunya tidak selalu beriringan namun Tuhan selalu punya cara dan waktunya sendiri untuk membuat saya terkejut (kemudian lupa bersyukur).

Di suatu hari saya berdoa untuk bisa meraih gelar S1 saya diumur 21. Mengingat sebenarnya saya msaih bisa wisuda di umur 22 karena kebanyakan teman seangkatan saya selesai diumur segitu, tapi tetap saya diwisuda beberapa bulan sebelum memasuki umur 22 tahun. Di saat itu saya masih lupa bersyukur, padahal sahabat-sahabat saya bahkan saat itu masih belum memiliki kepastian akan menyelesaikan studi.

Di suatu sore saya berandai-andai untuk bisa melanjutkan studi saya di luar negeri padahal sebelumnya menyelesaikan S1 saja saya sudah malas-malasan. Kemudian pada akhirnya saat ini saya sudah setengah jalan menyelesaikan studi saya, meskipun pada akhirnya tidak di luar negeri. Tapi Tuhan meng-iya-kan doa saja dengan caranya yang kedua. Terima kasih, Tuhan. Maaf saya masih lupa bersyukur.

Di tengah kegalauan saya mencari pekerjaan, saya sempat hampir putus asa. Di tengah keputus asaan saya, saya berdoa yang diselingi tangis ketakutan dan kepasrahan, saya menginginkan pekerjaan di Kementerian X. Padahal saat itu saya bahkan tidak pernah dan tidak berani mendaftar di sana. Alhamdulillah dua bulan kemudian saya diterima di Kementerian X, dan bekerja sampai sekarang. 

Di setiap pembicaraan saya mengenai kelak pria seperti apa yang akan mendampingi saya di masa depan, saya sering berdoa di dalam candaan. Saya ingin pria yang sikap dan pemikirannya dewasa namun juga bisa saya ajak bercanda di level humor saya yang menyedihkan. Saya ingin pria yang mau mencintai saya dengan semua kompleksitas, ketidak-percayaan diri, dan ego serta gengsi saya. Tuhan mengirimkan saya sosok yang mampu membuat saya menangis di dalam tawa saya ketika mendengar candaan bagaimana dirinya mengisi waktu luangnya dengan menghafalkan ijab kabul dengan nama saya. Atas hal ini, saya ingin bersyukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan karena telah mengabulkan satu persatu dari sejuta doa yang saya panjatkan mengenai sosok pendamping di masa depan.

Sampai pada akhirnya saya tiba di titik "Gila ya, gue dulu pernah iseng berdoa minta "ini". Aneh ga sih menurut lo gue pernah doa gitu? Tapi yang lebih anehnya malah dikasih."

For some people, I'm just being lucky for having everything I had for now. For me, God is testing me with being extremely generous and nice. God eventually gives me time to be extremely happy and overwhelmed with good things and wonder will I come back to Him to say thank you or being a jerk and asking even more to Him.

Terima kasih Tuhan, atas segala hal yang telah terjadi di (hampir) 24 tahun kehidupan saya. Ingatkan saya untuk tidak terlalu egois meminta terlalu banyak. Tarik saya kembali ketika saya berjalan terlalu jauh dan lupa untuk bersyukur.

Terima kasih Tuhan, sup ikan kakap siang ini enak meskipun saya tidak suka ikan.


Jakarta, 27 Juli 2018


7/3/18

Dear Universe, I'm falling in (I hope) a right spot!

Ajeng Novia Anggraini
Well, I finally come into one serious relationship.
A relationship that already leads to a marriage talk.
A relationship that makes me telling Mom that I'm seeing this guy.
A relationship that makes me believe that love is the greatest thing can happen to human being.
A relationship that makes me feel like the luckiest girl on earth.
A relationship that can change me into a better person in a super beautiful way.

I love him so much 'till the point it'll really break me down whenever a glimpse of thought I can't be together with him crossing my mind.
I love him like I've never loved someone this hard before.
I love him that I could risk everything I have to be with him.
I love him 'till the point I want to share my room, the one thing I'll always hate, for the rest of my life.
I love him to the point I want to sacrifice my life to be a mother of his beautiful children.
Our beautiful children.
I love him in the purest way I've ever been.

So I knew this guy as one of my bestfriend.
I thought he'll be just a friend.
But my heart tingles whenever he's goofing around.
People thought he's weird.
For me he's cute.
My cute goofy bestfriend.

I kept spending my time around him.
I kept my surrounding to be always around him.
I felt weird and thought I might like him.
But I thought it will just be temporary.

Time has past.
He became even more charming each days.
The way he goofed around or backing me up or helping me or helping others.
I really wanted to know him even more.

'Till that day, we got a chance to spend a whole day together.
Surprisingly, he loves to talk just like I do.
Little did I know, I ended up open up my self.
Telling him stories I barely shared with people.
Opening up about families. Telling him my childhood.
I ended up realize I've never talked about that to anyone. Ever.

I become super comfortable being in my own skin around him.
And when he shared about his life, I feel so much honoured.
This is crazy.

I slightly decide to give him chance to let he knows I am into him.
That day, we spend a night.
After that, everything moved faster.
We rushed everything and overwhelmed.

Two skeptics, sad, and lonely people find each other.
We are commited to be in a relationship.
Two goofy people started dating.

Bismillahirrahmanirrahim.
The beginning of our journey just about to start.
We are preparing our ship to be ready to sail.
We are building our ship as strong as possible just in case we're hit by the enormous storm.
Dear Universe, thank you for letting me falling this hard, but this time I'm pretty sure this is the right spot.
Dear God, thank you for answering my pray and sending him to me. Please let this be the end of my wander.



Jakarta, July 4th 2018
We are about to end our Long Distance cause he's home tonight!



Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism

Distributed By Gooyaabi Templates