1/28/14

Kamu, si Lelaki Itu [Unfinished fiction]

Ajeng Novia Anggraini

Saat itu aku duduk bersisian dengannya menghabiskan akhir pekan ke sekian ratus atau bahkan ribuan kalinya di restaurant yang sama. Bukannya kami tidak suka mencoba hal yang baru, hanya saja inilah satu-satunya tempat yang menurut kami paling nyaman di seluruh pelosok negeri ini di akhir pekan. Tidak terlalu riuh, tidak terlalu ramai. Dan yang pasti tempat ini menyuguhkan hidangan yang kami sukai. Aku dengan milkshake ratusan varian yang manis, serta dia yang setia dengan latte nya yang menurutku terlalu kecut dan hambar, sama dengan pribadinya.

"Tuh kan aku udah bilang, aku lagi PMS. Kamu jangan cuekin aku terus dong, Yang. Heran deh sama kamu, udah malem minggu gini masih mikirin kerjaan. Udah deh, matiin handphonenya. You deserve a peacefull weekend!"

"Ya aku gabakal bisa damai juga kalo kamu nya ngomel-ngomel terus, yang."

"Ooh. Jadi sekarang aku yang salah gitu? Iya? Aku? Kamu pikir deh Yang, aku marah gara-gara siapa? Gara-gara kamu juga kan? Coba deh kalo daritadi kamu ga sibuk sendiri terus nanyain kabar aku, aku gabakal marah-marah. Kita tuh cuma bisa ketemu pas weekend doang, kamu ga pengen tau apa kabar aku seminggu ini? Kamu ga pengen tau kalo kemaren dosen pembimbingku blablabla..."

"Iya yang, iya. Kamu ga salah kok. Udah ya ngomelnya. Yaudah sini deh cerita sama aku." Ujarnya sambil mengusap-usap lembut kepalaku. Kalau sudah seperti ini biasanya aku langsung terhipnotis dan langsung manut. Kemudian aku pun merebahkan kepalaku di bahunya sembari bercerita untuk meluapkan emosiku. Kejadian seperti ini selalu terjadi di hubungan kami di kala aku mendapatkan jadwal bulananku. Dan selalu, segala kejadian berakhir manis, semanis milkshake yang terhidang di meja kami.

Aku dan dia sudah menjalani hubungan ini empat tahunan lebih, semenjak aku masih berseragam putih abu-abu dan dia masih berstatus mahasiswa. Kami berdua memanglah dua orang yang memiliki kepribadian bertolak belakang. Itu semua sudah terlihat dari awal hubungan kami. Saat itu aku masihlah anak dengan pemikiran pendek yang suka bertingkah seenaknya, sedangkan dia sudah jauh lebih dewasa. Mungkin perbedaan umur yang cukup banyak di antara aku dan dia membuat kami terkadang merasa seperti kakak dan adik, hanya saja kami mempunyai ikatan emosi yang tidak boleh dimiliki oleh kakak beradik. Hehehe

Dari segi kepribadian kami juga sangat berbeda. Orang sering mengibaratkanku sebagai Fruity Milkshake. Aku adalah anak yang tidak bisa diam dan selalu penuh kejutan. Emosiku juga sangat meledak-ledak. Tipikal sanguinis sejati. Sementara lelaki ku itu puny sifat yang sangat mirip dengan kopi hitam yang sering diminum para sesepuh itu, hitam, pekat dan pahit!

Tapi meskipun begitu aku sangat menyayanginya. Hidupku banyak bergantung padanya. Dia lah satu-satunya orang yang bisa mengontrol emosiku di saat aku sendiri tidak sanggup mengontrolnya. Bahkan dari ratusan nasehat yang orang lain berikan padaku tidak pernah ku gubris, namun satu patah kata yang keluar dari mulutnya pasti akan aku resapi. Dia orang yang sangat serius dan miskin ekspresi. Sesenang apapun dia, pasti ekspresinya akan sama dengan ketika dia ku omeli habis-habisan. But whatever he is, He is my water, 88% of me!

Banyak yang menyangsikan hubungan kami akan bertahan lama melihat sifatku dan dia yang sangat berlainan ini, namun toh pada akhirnya kami bisa membuktikan kepada mereka semua bahwa kami sanggup membangun cinta di atas segala perbedaan. Empat tahun bukanlah waktu singkat, dan perjalanan kami tidaklah mudah. Ratusan rintangan telah kami lalui bersama dan ribuan jadwal datang bulanku pun kami hadapi meski harus meneriaki satu sama lain (enggg.. aku sih yang paling sering meneriakinya). But now here we are! We are much much happy than everybody think we are.

Pernah saat itu aku iseng bertanya padanya.
"Kamu bosen ga kalo aku marah-marah terus tiap PMS?"
"Bosen sih, tapi aku tetep bersyukur kok."
"Bersyukur kenapa?"
"Ya bersukur aja kamu haidnya cuma sekali sebulan. Aku gabisa bayangin apa jadinya kalo cewek haidnya satu kali seminggu."

Dia menjawabku dengan wajah tanpa ekspresi. Tapi aku tetap tertawa. Orang-orang yang baru mengenalnya pasti akan mengira dia ini zombie atau semacamnya. Tapi itulah dia, dan aku selalu suk caranya memperlakukanku.

Pernah pula suatu kali aku bertanya padanya mengapa ia masih tetap mau bertahan denganku dan sifat-sifatku ini. Dan apakah kamu tau jawabannya

"Ya kalau bukan cinta, aku gatau lagi ini namanya apa."

1/25/14

Kepadamu yang Telah Pergi

Ajeng Novia Anggraini

Kepadamu yang telah pergi...
Terimakasih karena sudah pernah singgah dan menetap di sini.
Terimakasih karena sudah mau berbagi.
Namun, saat ini ketika kau memilih pergi, tak banyak pinta yang ku harap padamu.
Hanya saja..

......

Kalo mau pergi yaudah pergi aja gausah balik-balik! Apalagi kalo baliknya di saat gue udah lupa! Hih!

1/22/14

Pria yang Ku Kenal Sebatas Punggung

Ajeng Novia Anggraini

Siang ini aku memilih tempat duduk yang sama di cafe yang sama dengan segelas frappucino di hadapanku. Ritual yang rutin kulakukan, sama rutinnya dengan pria yang berada di meja seberangku. Pria yang selalu membelakangiku di cafe ini. Ntahlah, ntah mengapa kami sama-sama suka menempati kursi yang sama dan jam berkunjung yang sama setiap harinya, seolah ini adalah sebuah keharusan yang sudah dijadwalkan.

Semenjak cafe ini pertama kali di buka memang aku dan dia sudah menempati tempat duduk yang sama. Ntah kebetulan atau kesengajaan, aku dan dia tidak pernah menukar posisi tempat duduk kami. Dan entah kesengajaan atau konspirasi alam, tidak ada pengunjung yang mengambil tempat duduk kami di jam-jam kunjungan kami, seolah semesta menginginkan formasi ini untuk menumbuhkan gelombang-gelombang tak terisyaratkan di batinku.

Aku biasa menulis atau membaca novel di cafe ini ketika senja sampai kemudian cakrawala memekat dan menaburkan cahaya bintang di atas sana. Ntah mengapa aku sangat menyukai tempat ini semenjak pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini. Begitupun dengannya, dia juga berkunjung di jam yang sama denganku. Mungkin ini sudah tahun ke dua aku dengan rutin melihatnya di sini. Yang dilakukannya pun sama setiap harinya, memesan kopi robusta pekat dan kental, kemudian dengan tekun mengamati layar MacBook nya.

Ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta datang karena terbiasa, namun tidak ada yang pernah bilang bahwa cinta datang padaku dengan cara seperti ini. Dua tahun sudah dia duduk membelakangiku tanpa menoleh kepadaku. Kami tidak pernah sekalipun bertegur sapa. Hanya aku saja yang menikmati pemandangan punggungnya sambil menerka-nerka seperti apa warna matanya. Rasa penasaranku membawaku untuk selalu mengimajinasikan rupanya sampai ke dalam mimpiku. Dan setiap fantasiku berakhir, selalu meninggalkan lengkungan senyun di wajahku. Ya Tuhan, pertanda apakah ini?

Mengherankan untukku bisa mencintai seseorang yang hanya kukenal sebatas punggung. Jangan siapa namanya, warna matanya pun aku tak tahu pasti. Bagaimana lekuk rupanya pun masih misteri bagiku. Apalagi apa pekerjaannya. Dia bisa saja penulis juga sepertiku, atau pegawai sebuah perusahaan atau apalah. Semua bisa menjadi kemungkinan. Tapi pengetahuanku akan dirinya sangatlah minim bahkan bisa dibilang nihil. Bagaimana mungkin Tuhan, Engkau bisa menghadirkan rasa ini di sanubariku. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai orang yang bahkan tidak pernah menoleh sedikitpun padaku. Dan bagaimana bisa pula aku tidak memiliki kekuatan untuk menahan pandanganku agar tidak jatuh hati terlalu dalam setiap kali menatap punggungnya?

Aku terus bertanya dan mempertanyakan sampai akhirnya letih dan bosan. Pada akhirnya detik ini aku menerima semua rasa yang semesta suguhkan padaku. Rasa cinta kepada seorang pria yang kucintai walau hanya bisa kukenal dan nikmati sebatas punggung.

Ps:
I couldn't say you happy birthday directly, but this post is dedicated for your day, Mbel. I wish you very happy birthday :)

1/19/14

Tentang Orang yang Berjalan Bersisian

Ajeng Novia Anggraini

Aku bertemu kamu di persimpangan jalan kehidupan. Awalnya aku merasa biasa saja karena aku sudah cukup terbiasa bertemu orang baru dan berkenalan. Tidak ada yang menarik pada awalnya. Kamu sama seperti yang lainnya, ramah di awal di hadapan semua wanita.

Setelah berbicara dan bertukar informasi mengenai pribadi masing-masing ala kadarnya, kita akhirnya tau tujuan kita sama. Dihadapan kita terhampar ratusan jalan yang berbeda namun tetap berujung di satu titik yang sama. Saat itu aku yang sangat apatis terhadap orang lain tidak memperdulikan jalan mana yang akan kau ambil. Persetan dengan orang lain, aku tidak peduli. Yang aku perdulikan hanyalah jalan yang kutempuh demi satu tujuan.

Aku meninggalkanmu di belakang dan memilih kembali melanjutkan perjalananku sendirian tanpa menoleh ke belakang. Bagiku, tujuan hidupku adalah apa yang terbentang di depanku, dan apa yang ada di belakangku hanyalah sesuatu yang tidak perlu aku kaji ulang karena hanya akan menghambat langkahku.

Di tengah perjalananku ternyata aku kembali bertemu kamu. Tidak ku sangka bahwa kau akan mengambil jalan yang sama. Di jalur ini kau tidak akan pernah bisa berhenti dan berputar arah kembali ke belakang. Karena itulah sebenarnya aku memilih jalur ini. Jalur ini tidak banyak memberi pilihan namun apa yang ia sediakan hanyalah ketegasan. Aku tak menyangka kau akan memilih jalur ini juga, karena tidak banyak orang yang suka untuk tidak diberi kebebasan memilih banyak pilihan.

Dari pertemuan ke dua ini aku tergelitik untuk mengetahui lebih banyak tentangmu. Kita mulai bercengkrama berkenalan lebih jauh. Saling menggali informasi tentang diri masing-masing. Alangkah terkejutnya aku begitu menemukan begitu persamaan di antara kepribadian kita, cara berpikir, dan bagaimana kita bereaksi terhadap sesuatu. Perjalanan ini terasa menyenangkan karena aku bertemu sosok yantg dapat aku mengerti dan mengerti aku semudah memahami diri sendiri.

Lama kelamaan perjalanan ini terasa jauh lebih menarik. Kita bisa tertawa bersama atas lelucon yang mungkin hanya kita berdua yang mengerti, kita bisa punya pandangan yang sama walau aku yakin orang akan menganggapnnya 'nyentrik', kitapun punya minpi yang sama, yang orang-orang pikir sia-sia dan tidak akan pernah mungkin tercapai. Kita berbahagia di atas semua pemikiran miring orang-orang. Menurut mereka kita ini gila dan tidak masuk akal, menurut kita mereka hanyalah orang-orang yang tidak berani mengekspresikan dirinya dan terkekang dalam pola pikir yang membosankan.

Waktu berlalu lebih cepat dari apa yang kita bayangkan. Perjalanan ini tak kunjung menemukan ujungnya yang menandakan semuanya masih jauh untuk mencapai tujuan. Sementara kita berdua sudah mulai merasa bosan karena tidak bisa menemukan hal baru untuk dipelajari. Kita juga sudah mati kebosanan dengan diri masing-masing. Kita mulai menyangsikan apakah kita masih sanggup untuk tetap melaju ke depan mencapai tujuan berdua? Sekarang setiap lelucon yang terlontar hanyalah kehampaan dan setiap derai tawa yang terurai hanyalah kebisuan. Aku rasanya sudah tidak sanggup.

Kali ini aku berpikir apa yang mesti ku perbuat. Haruskah aku melanjutkan perjalanan ini bersamanya meski aku harus berjuang mati-matian melawan kehampaan? Ataukah aku harus berhenti sejenak melawan arus yang jalur ini haramkan kemudian membiarkannya berjalan duluan dan meninggalkanku di belakang di mana artinya ia tak akan perbah bisa melihatku lagi?

Aku terkekang dalam kebimbangan. Beginikah rasanya memilih di antara pilihan yang sama sekali tidak bisa dipilih?

1/18/14

Sunday Morning Charity Info

Ajeng Novia Anggraini

Haloo selamat pagi!
Hari minggu pagi ini suhu udara di Bukittinggi lagi digin-dinginnya. Saat yang sempurna untuk kembali lagi ke tempat tidur dan menyambung mimpi indah semalam. Suhu di luar mencapai 17 derajat celcius. Cuacanya emang lagi ga menguntungkan, jadi buat kamu-kamu semua jaga kesehatan yaa.

Gatau juga uini sebenarnya ingin menulis apa. Bingung juga. Saat ini sudah menjalani liburan di minggu ke 3 dan liburan ini sebentar lagi akan usai. Sejauh ini gue hanya menghabiskan waktu di rumah bersama keluarga mengingat di hari-hari biasa gue ga pernah bisa punya waktu untuk mereka. Waktu gue biasanya dihabiskan untuk kegiatan di luar rumah, jadi inilah saatnya family bond building.

Curah hujan cukup tinggi saat ini, beberapa wilayah di tanah air tercinta kita ini sudah terendam banjir. Jakarta, Manado, juga NTT (yang luput dari pemberitaan media dan pandangan pemerintah) sekarang sudah terapung. Di Bukittinggi sendiri cuacanya juga labil, kadang tiba-tiba terik, kadang tiba-tiba hujan. Jadi buat kalian semua jangan lupa jaga kesehatan yaa. Perbanyak makan makanan bergizi ditambah konsumsi suplemen. Dan untukmu Ajeng, ada baiknya kamu menjalankan rencana olahragamu sebelum itu hanya menjadi wacana!

Dan untuk saudara-saudaraku yang tertimpa musibah banjir di Jakarta, Manado, dan NTT juga untuk mereka yang terkena letusan gunung Sinabung di Karo, semiga Tuhan memberikan kekuatan dan ketegaran lebih untuk melewati cobaan ini. Amin!

Oiya, di twitter juga sekarang ada banyak wadah untuk kita bisa turut berpartisipasi untuk membantu saudara-saudara kita ini, salah satunya adalah pelelangan. Lelangvapa aja mulai dari pakaian layak pakai, aksesoris, alat elektronik sampai buku. Dan keseluruhan hasil lelang ini akan disumbangkan langsung ke para korban bencana. Untuk info lebih lanjutnya kalian bisa follow @amrazing @adellaidellaide @elwa_ @benzbara di twitter. Atau juga bisa follow gue di @anotherajeng karena gue juga bakal ikut nge-retweet infonya.

Bantuan sekecil apapun dari kita pasti akan sangat berarti bagi mereka. Jadi ikut menyumbangkan barang-barang yang tidak lagi kamu pakai namun bisa bermanfaat bagi orang lain ga ada salahnya kan? Dan satu lagi, acara lelang ini tidak terkait dengan partai politik apapun, jadi tidak usah khawatir yaa :p

So, that's all for today. See you, gorgeous! :D

1/2/14

Postingan Januari

Ajeng Novia Anggraini

Hi people!
Halo akhirnya ketemu lagi. Sedih banget cuma bisa nulis pas liburan doang, soalnya di hari biasa gue udah disibukin sama tugas-tugas gue yang posesifnya minta ampun. Belum lagi gue lagi mengemban tanggung jawab baru di luar kuliah. Jadi ya gitu deh gue udah susah banget nemuin quality time buat menulis.

Well, jadi kita harus mulai dari mana?
Dari kabar gue? Kabar gue ya kayak yang gue jelaskan di atas tadi. Tapi Alhamdulillah gue sangat bahagia dengan apa yang gue punya sejauh ini. Dari segi pendidikan, kuliah, kerjaan, maupun kehidupan sosial gue bisa dikatakan berada di level lebih dari cukup tahun ini.

Oiya dan akhirnya di bulan November kemarin gue (akhirnya) merayakan ulang tahun yang ke 19. Yaaay akhirnya. Merasa bahagia sekaligus sedih karena ternyata gue semakin tua. Yayaya life must go on. Gue sih pengennya di umur gue yang sekarang ini gue semakin diberikan kedewasaan dan bukan ketuaan :")

Akhir-akhir ini suka agak jengah dengan mereka yang selalu mempertanyakan kenapa gue masih sendiri. Lebih bete lagi di saat gue mencoba menjawab pertanyaan mereka kemudian di-interupsi dan dituduh hanya memberi alasan bullshit semata. Sekali dua kali gue bisa sih nanggepin dengan hanya senyum basa-basi-busuk, tapi ya kalo lama-lama kan bosen juga. Well maybe I'll try to answer people's question over here since nobody can interrupted me.
So, my answer is: I am single cause I simply don't date muggles. Enough said.

So this is the end of the post, tidak semua yang terlihat berkilau itu emas dan juga tidak semua yang berbau busuk itu sampah. Jangan suka menarik kesimpulan hanya dari satu sudut pandang, cobalah berpikir dewasa. Dan yang paling penting udah jadian duluan bukan berarti udah move on, dan sebaliknya, single bukan berarti belom move on.

See you at the next post! :D

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism

Distributed By Gooyaabi Templates