8/20/14

Petanyaan Tanpa Jawaban Pasti

Ajeng Novia Anggraini
Malam ini sebuah pertanyaan menyentak pikiran gue. Pertanyaan yang datang dari seorang senior gue di Kampus. Awalnya hanya berkenaan dengan pembicaraan ga penting seputar kandungan dalam krim oreo yang enaknya nggilani dan bikin nagih, kemudian merempet ke persoalan kampus. Biasa sih gosip-gosip kampus dan ditambah gue yang anaknya emang gatel banget pengen diwisuda. Hahaha

Then suddenly there was a question popped up and made me thinking more seriously:
“What will you do after graduated?”

Jika saja gue sekarang tidaklah mahasiswa semester 5, mungkin gue akan puas dengan hanya menjawab: “ya kerja dong jadi *isi sesuka hati dan seenak perut*” atau “lanjutin S2 lah di *sebutkan Universitas yang kira-kira mustahil untuk dimasuki*”. Namun, karena kini sudah memasuki tahun ketiga gue berstatus sebagai jomblo mahasiswi, pertanyaan ini tentu saja mulai sulit untuk di jawab.

Kini, ada sejuta rencana yang berputar di kepala gue untuk menjawab pertanyaan ini. Namun tidak sepatah katapun yang keluar dari pemikiran gue yang benar-benar bisa menjawab pertanyaan tersebut. Kenapa? Karena sekarang gue sudah mulai berpikir, apapun yang gue lakukan nantinya setelah gue menyelesaikan sarjana gue, akan menjadi hal yang berdampak besar pada kehidupan gue nantinya.

Mau tau apa yang terlintas pertama kali di benak gue ketika akan menjawab pertanyaan tersebut? Setelah kelulusan gue pengen travelling. Gue pengen jalan-jalan ke mana aja sesuka gue, dan sendirian. Gue ingin merehatkan sejenak pemikiran gue dari hiruk pikuk dunia kuliah yang makin lama makin absurd dan bikin gila. Siapa yang menjawab ketika ia diwisuda dia akan langsung mendaftar untuk menjadi master? Kemungkinan mereka belum pernah menjejalkan diri di dunia perkuliahan, atau justru kemungkinan mereka tidak dapat porsi tekanan yang pas ketika berkuliah. Gila aja, lo baru lulus kemaren, baru ngerasain udara segar tanpa tekanan dari dosen pembimbing dan antek-anteknya terus lo mau nambah lagi? Gue rasa gaada. Segimanapun study oriented­-nya seseorang, gue yakin dia bakal mutusin buat lanjutin sekolah minimal setahun setelah sarjana (kecuali waktu memasuki tahun ketiga dia udah mulai daftar beasiswa dan ternyata lulus, ya otomatis lo terpaksa harus lanjut tanpa jeda. Buat kalian yang gini, selamat ya. Iya, semoga masih bisa selamat).

Ada lagi hal yang terpikir ketika ingin menjawab pertanyaan tadi, begitu gue lulus gue pengen kerja. Iya, pengen ngerasain gimana rasanya menikmati hasil jerih payah sendiri. Sebenarnya hal ini sudah umum, bahkan dilakukan sebagian besar mahasiswa yang telah lulus kuliah. Tapi pertanyaannya pekerjaan macam apa yang gue inginkan? Ekspektasi orang tua gue ketika gue lulus nantinya dengan gelar Sarjana Pendidikan ini kemungkinan hanya beberapa tipe pekerjaan:
1.       Guru
2.       Dosen
3.       PNS
4.       Guru yang jadi PNS
5.       Dosen yang jadi PNS

Selebihnya? Pekerjaan lain di mata mereka tidaklah menjanjikan. Gue rasa orang tua kalian juga berpendapat sama. Tapi tentunya sebagai seorang manusia keras kepala yang usianya belum genap 20 tahun, gue punya pendapat lain. Menjadi seorang PNS sudah menjadi pekerjaan yang terlalu mainstream. Bukannya ingin merendahkan, meremehkan, atau apapun itu, karena gue tahu sekali menjadi seorang PNS tentunya akan menjamin kehidupan kita bahkan sampai masa tua nantinya. Tapi di umur gue yang sekarang gue mendambakan pekerjaan yang mempunyai tantangan berbeda-beda. Bukan hanya melakukan rutinitas yang sama, beban pekerjaan yang sama, tantangan yang sama selama bertahun-tahun. Apa yang saat ini ego gue inginkan adalah sebuah pekerjaan yang menantang dan membuat gue menemukan banyak pengalaman baru. Like work hard and travel alot. But so far, i haven’t found what kind of job that is.

Mau tau pekerjaan apa yang gue inginkan nantinya? Gue ingin menjadi Travel blogger ataupun Food Blogger. Bisa mengisi tulisan di sebuah kolom majalah terkenal. What a perfect job, i could travel around, eating a lot, write, and get  paid! That could be so perfect.

Tapi tentunya hal itu akan dianggap sebagai sebuah pekerjaan sia-sia bukan? Mereka akan bilang, menjadi columnist tidak akan bisa membayarkan tagihan bulananmu, cicilan rumah, mobil, properti, dan jaminan masa tua. Iya, gue tau persepsi setiap orang tua akan hal itu. Tapi tidak ada salahnya mencoba bukan? Bekerja sesuai dengan apa yang kamu sukai bukankah akan terasa lenih menyenangkan dan tidak akan menjadi beban?

Apa lagi ya? Oh ya, seorang editor juga adalah hal menyenangkan menurut gue. Membaca karya-karya mentah penulis-penulis terkenal dan juga bibit-bibit penulis terkenal bahkan sebelum karya mereka dipublikasikan. Menjadi orang pertama yang menikmati karya-karya terbaik penulis bukankah menyenangkan?

But...
Gue pernah membaca sebuah nasihat, bahwasanya seiring berjalan waktu kita akan menjadi semakin tua. Seiring berjalannya waktu pemikiran kita akan berubah dan begitu pula dengan persepsi. Mungkin hari ini gue berpikir pekerjaan-pekerjaan impian gue akan membuat gue bahagia nantinya, tapi akan tiba di satu titik gue akan merasa pekerjaan tersebut bukanlah hal terbaik yang gue lakukan. Bukannya manusia tidak pernah puas? Dan akan tiba pada satu titik kita akan mulai menyesali dan berandai-andai: coba aja gue dulu jadi ini ya? Atau coba aja gue dengerin kata nyokap buat jadi itu ya?

Semakin kita dewasa kita bakalan sadar kalo kerja ga selamanya harus sesuai sama apa yang kita suka doang. Everything wouldn’t always like you want it to be, right? Makanya ada kata-kata we work to pay the bill. Kalo kata Teh Falla, ketika sudah dewasa dan berumah tangga kita ga lagi memikirkan kita suka apa engga kerjain ini, tapi apakah pekerjaan ini bisa bikin dapur kita tetap mengepul dan cicilan mobil berkurang apa engga :p

So, dari tulisan sepanjang ini pun gue masih gatau apa jawaban atas pertanyaan di atas tadi. Mungkin pemikiran gue belum cukup matang untuk memutuskan. Tapi seiring berjalannya waktu gue yakin tujuan yang masih buram ini nantinya akan semakin jelas.

Namun, kembali lagi. Manusia hanya bisa berusaha dan bertawakal, selebihnya memang ditentukan oleh kehendak-Nya. Jadi kalo Yang Maha Memberi Kejutan sudah memutuskan bahwa gue akan menikah setelah sarjana, ya gaada satu orangpun yang bisa melawan (termasuk nyokap yang bilang nikahnya ntar aja kalo udah kelar S2 sama udah kerja. Lama cyin!). Ataupun kalau ternyata gue sudah digariskan untuk menjadi Dosen atau Guru yang PNS, gue juga gabisa menolak. Yang bisa gue lakukan hanyalah menjalani kehidupan sebagai PNS yang bakal rajin jalan-jalan. Hahaha

Yah kita akhiri saja postingan panjang ini. Maaf ya karena sudah jarang sekali menulis. Memang benar adanya kalau inspirasi akan mengetuk mereka yang hatinya tengah bergejolak, ntah karena jatuh cinta ataupun patah hati. Dan ketika hati adem ayem, lempeng dan tidak berpenghuni, sulit rasanya menarikan jemari di atas keyboard bahkan hanya untuk sekedar bercerita tentang keseharian, karena memang tidak ada yang bisa diceritakan juga. Jadi doakan hati ini segera bergejolak lagi (lebih berharapnya sih karena jatuh cinta ya, rasanya sudah terlalu banyak postingan gejolak patah hati di sini).


Jadi, apa yang akan kalian lakukan setelah diwisuda nanti? Share yuk!

8/7/14

(masih) pembicaraan seputar jarak

Ajeng Novia Anggraini
Halo,
Halo kamu yang di sana. Ya, kamu yang berdiri di ujung senja.
Apa yang kau cari di sana? Bukankah sudah terlambat untuk menikmati tenggelamnya Sang Surya?
Oh iya aku lupa, justru yang kau cintai adalah lembayungnya. Kita dulu sering menyaksikannya bersama bukan? Di atas bebatuan di pinggir pantai dengan langit jingga ke merah-merahan menyerupai bara api. Ya, seperti bara api yang tengah kita rasakan waktu itu.

Hari ini genap dua tahun semenjak kita tak lagi bertegur sapa seperti biasanya. Dan hari ini pula akhirnya kita bertemu di tempat yang sama.
Tapi aku yakin kini sudahlah sangat berbeda. Kau berdiri tepat di hadapanku, berjarak hanya selemparan batu. Tapi tak sekejappun kau mau menatapku.

Aku ada, namun seolah tak ada.
Aku nyata, tapi seolah fana.

Tidak ingatkah kau di kala itu aku berkata aku tak mampu menepis jarak yang memisahkan raga? Namun ketika itu kau bersikeras bahwa jarak yang memisahkan raga bukanlah apa-apa.
Lalu kemudian aku bersikeras aku tetap tidak bisa tetap terikat di atas sebuah keombang-ambingan, dan pada akhirnya kau menyerah dan berkata semua ini terserah padaku saja.
Keputusanku adalah penentu kala itu.

Namun hari ini, ketika sudah tidak lagi ada jarak yang meretas raga, mengapa aku menjadi begitu hampa dan nelangsa? Ketika kau sudah ada di sampingku, di hadapanku, sehingga kini aku bisa menyentuhmu, mengapa aku justru tidak bisa meraihmu?

We seem so close, yet so far.

Kau kini menatap ke arahku, tapi bukan kepadaku.
Kau tertawa kepadaku, tapi bukan bersamaku.
Kau bercerita padaku, tapi bukanlah kisahmu denganku.
Ingin pula rasanya aku menangis seada-adanya di depanmu, tapi bukan menangisimu.
Tapi apalah daya, gayungpun tak bersambut.
Jatuhlah iya porak poranda.

Kau benar, jarak yang memisahkan raga bukanlah apa-apa.

Karena sesungguhnya yang akan menjadi apa-apa adalah ketika jarak telah memisahkan hati.

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism

Distributed By Gooyaabi Templates