Malam ini sebuah pertanyaan
menyentak pikiran gue. Pertanyaan yang datang dari seorang senior gue di
Kampus. Awalnya hanya berkenaan dengan pembicaraan ga penting seputar kandungan
dalam krim oreo yang enaknya nggilani dan bikin nagih, kemudian merempet ke
persoalan kampus. Biasa sih gosip-gosip kampus dan ditambah gue yang anaknya
emang gatel banget pengen diwisuda. Hahaha
Then suddenly there was a
question popped up and made me thinking more seriously:
“What will you do after
graduated?”
Jika saja gue sekarang tidaklah
mahasiswa semester 5, mungkin gue akan puas dengan hanya menjawab: “ya kerja
dong jadi *isi sesuka hati dan seenak perut*” atau “lanjutin S2 lah di
*sebutkan Universitas yang kira-kira mustahil untuk dimasuki*”. Namun, karena
kini sudah memasuki tahun ketiga gue berstatus sebagai jomblo mahasiswi,
pertanyaan ini tentu saja mulai sulit untuk di jawab.
Kini, ada sejuta rencana yang
berputar di kepala gue untuk menjawab pertanyaan ini. Namun tidak sepatah
katapun yang keluar dari pemikiran gue yang benar-benar bisa menjawab
pertanyaan tersebut. Kenapa? Karena sekarang gue sudah mulai berpikir, apapun
yang gue lakukan nantinya setelah gue menyelesaikan sarjana gue, akan menjadi
hal yang berdampak besar pada kehidupan gue nantinya.
Mau tau apa yang terlintas
pertama kali di benak gue ketika akan menjawab pertanyaan tersebut? Setelah kelulusan
gue pengen travelling. Gue pengen jalan-jalan ke mana aja sesuka gue, dan
sendirian. Gue ingin merehatkan sejenak pemikiran gue dari hiruk pikuk dunia
kuliah yang makin lama makin absurd dan bikin gila. Siapa yang menjawab ketika
ia diwisuda dia akan langsung mendaftar untuk menjadi master? Kemungkinan mereka
belum pernah menjejalkan diri di dunia perkuliahan, atau justru kemungkinan
mereka tidak dapat porsi tekanan yang pas ketika berkuliah. Gila aja, lo baru
lulus kemaren, baru ngerasain udara segar tanpa tekanan dari dosen pembimbing
dan antek-anteknya terus lo mau nambah lagi? Gue rasa gaada. Segimanapun study oriented-nya seseorang, gue yakin
dia bakal mutusin buat lanjutin sekolah minimal setahun setelah sarjana
(kecuali waktu memasuki tahun ketiga dia udah mulai daftar beasiswa dan
ternyata lulus, ya otomatis lo terpaksa harus lanjut tanpa jeda. Buat kalian
yang gini, selamat ya. Iya, semoga masih bisa selamat).
Ada lagi hal yang terpikir ketika
ingin menjawab pertanyaan tadi, begitu gue lulus gue pengen kerja. Iya, pengen
ngerasain gimana rasanya menikmati hasil jerih payah sendiri. Sebenarnya hal
ini sudah umum, bahkan dilakukan sebagian besar mahasiswa yang telah lulus
kuliah. Tapi pertanyaannya pekerjaan macam apa yang gue inginkan? Ekspektasi orang
tua gue ketika gue lulus nantinya dengan gelar Sarjana Pendidikan ini
kemungkinan hanya beberapa tipe pekerjaan:
1. Guru
2. Dosen
3. PNS
4. Guru
yang jadi PNS
5. Dosen
yang jadi PNS
Selebihnya? Pekerjaan lain di
mata mereka tidaklah menjanjikan. Gue rasa orang tua kalian juga berpendapat
sama. Tapi tentunya sebagai seorang manusia keras kepala yang usianya belum
genap 20 tahun, gue punya pendapat lain. Menjadi seorang PNS sudah menjadi
pekerjaan yang terlalu mainstream. Bukannya ingin merendahkan, meremehkan, atau
apapun itu, karena gue tahu sekali menjadi seorang PNS tentunya akan menjamin
kehidupan kita bahkan sampai masa tua nantinya. Tapi di umur gue yang sekarang
gue mendambakan pekerjaan yang mempunyai tantangan berbeda-beda. Bukan hanya
melakukan rutinitas yang sama, beban pekerjaan yang sama, tantangan yang sama
selama bertahun-tahun. Apa yang saat ini ego gue inginkan adalah sebuah
pekerjaan yang menantang dan membuat gue menemukan banyak pengalaman baru. Like
work hard and travel alot. But so far, i haven’t found what kind of job that
is.
Mau tau pekerjaan apa yang gue
inginkan nantinya? Gue ingin menjadi Travel blogger ataupun Food Blogger. Bisa mengisi
tulisan di sebuah kolom majalah terkenal. What a perfect job, i could travel
around, eating a lot, write, and get
paid! That could be so perfect.
Tapi tentunya hal itu akan dianggap
sebagai sebuah pekerjaan sia-sia bukan? Mereka akan bilang, menjadi columnist
tidak akan bisa membayarkan tagihan bulananmu, cicilan rumah, mobil, properti,
dan jaminan masa tua. Iya, gue tau persepsi setiap orang tua akan hal itu. Tapi
tidak ada salahnya mencoba bukan? Bekerja sesuai dengan apa yang kamu sukai
bukankah akan terasa lenih menyenangkan dan tidak akan menjadi beban?
Apa lagi ya? Oh ya, seorang
editor juga adalah hal menyenangkan menurut gue. Membaca karya-karya mentah
penulis-penulis terkenal dan juga bibit-bibit penulis terkenal bahkan sebelum
karya mereka dipublikasikan. Menjadi orang pertama yang menikmati karya-karya
terbaik penulis bukankah menyenangkan?
But...
Gue pernah membaca sebuah
nasihat, bahwasanya seiring berjalan waktu kita akan menjadi semakin tua. Seiring
berjalannya waktu pemikiran kita akan berubah dan begitu pula dengan persepsi. Mungkin
hari ini gue berpikir pekerjaan-pekerjaan impian gue akan membuat gue bahagia
nantinya, tapi akan tiba di satu titik gue akan merasa pekerjaan tersebut
bukanlah hal terbaik yang gue lakukan. Bukannya manusia tidak pernah puas? Dan akan
tiba pada satu titik kita akan mulai menyesali dan berandai-andai: coba aja gue
dulu jadi ini ya? Atau coba aja gue dengerin kata nyokap buat jadi itu ya?
Semakin kita dewasa kita bakalan
sadar kalo kerja ga selamanya harus sesuai sama apa yang kita suka doang. Everything
wouldn’t always like you want it to be, right? Makanya ada kata-kata we work to pay the bill. Kalo kata Teh
Falla, ketika sudah dewasa dan berumah tangga kita ga lagi memikirkan kita suka
apa engga kerjain ini, tapi apakah pekerjaan ini bisa bikin dapur kita tetap mengepul
dan cicilan mobil berkurang apa engga :p
So, dari tulisan sepanjang ini
pun gue masih gatau apa jawaban atas pertanyaan di atas tadi. Mungkin pemikiran
gue belum cukup matang untuk memutuskan. Tapi seiring berjalannya waktu gue
yakin tujuan yang masih buram ini nantinya akan semakin jelas.
Namun, kembali lagi. Manusia hanya
bisa berusaha dan bertawakal, selebihnya memang ditentukan oleh kehendak-Nya. Jadi
kalo Yang Maha Memberi Kejutan sudah memutuskan bahwa gue akan menikah setelah
sarjana, ya gaada satu orangpun yang bisa melawan (termasuk nyokap yang bilang
nikahnya ntar aja kalo udah kelar S2 sama udah kerja. Lama cyin!). Ataupun kalau ternyata
gue sudah digariskan untuk menjadi Dosen atau Guru yang PNS, gue juga gabisa
menolak. Yang bisa gue lakukan hanyalah menjalani kehidupan sebagai PNS yang
bakal rajin jalan-jalan. Hahaha
Yah kita akhiri saja postingan
panjang ini. Maaf ya karena sudah jarang sekali menulis. Memang benar adanya
kalau inspirasi akan mengetuk mereka yang hatinya tengah bergejolak, ntah
karena jatuh cinta ataupun patah hati. Dan ketika hati adem ayem, lempeng dan
tidak berpenghuni, sulit rasanya menarikan jemari di atas keyboard bahkan hanya
untuk sekedar bercerita tentang keseharian, karena memang tidak ada yang bisa
diceritakan juga. Jadi doakan hati ini segera bergejolak lagi (lebih
berharapnya sih karena jatuh cinta ya, rasanya sudah terlalu banyak postingan
gejolak patah hati di sini).
Jadi, apa yang akan kalian
lakukan setelah diwisuda nanti? Share yuk!
0