Halo,
Halo
kamu yang di sana. Ya, kamu yang berdiri di ujung senja.
Apa yang
kau cari di sana? Bukankah sudah terlambat untuk menikmati tenggelamnya Sang
Surya?
Oh iya
aku lupa, justru yang kau cintai adalah lembayungnya. Kita dulu sering
menyaksikannya bersama bukan? Di atas bebatuan di pinggir pantai dengan langit
jingga ke merah-merahan menyerupai bara api. Ya, seperti bara api yang tengah
kita rasakan waktu itu.
Hari
ini genap dua tahun semenjak kita tak lagi bertegur sapa seperti biasanya. Dan hari
ini pula akhirnya kita bertemu di tempat yang sama.
Tapi
aku yakin kini sudahlah sangat berbeda. Kau berdiri tepat di hadapanku,
berjarak hanya selemparan batu. Tapi tak sekejappun kau mau menatapku.
Aku ada,
namun seolah tak ada.
Aku nyata,
tapi seolah fana.
Tidak
ingatkah kau di kala itu aku berkata aku tak mampu menepis jarak yang
memisahkan raga? Namun ketika itu kau bersikeras bahwa jarak yang memisahkan
raga bukanlah apa-apa.
Lalu
kemudian aku bersikeras aku tetap tidak bisa tetap terikat di atas sebuah
keombang-ambingan, dan pada akhirnya kau menyerah dan berkata semua ini
terserah padaku saja.
Keputusanku
adalah penentu kala itu.
Namun
hari ini, ketika sudah tidak lagi ada jarak yang meretas raga, mengapa aku
menjadi begitu hampa dan nelangsa? Ketika kau sudah ada di sampingku, di
hadapanku, sehingga kini aku bisa menyentuhmu, mengapa aku justru tidak bisa
meraihmu?
We seem so close, yet so far.
Kau kini
menatap ke arahku, tapi bukan kepadaku.
Kau tertawa
kepadaku, tapi bukan bersamaku.
Kau bercerita
padaku, tapi bukanlah kisahmu denganku.
Ingin
pula rasanya aku menangis seada-adanya di depanmu, tapi bukan menangisimu.
Tapi
apalah daya, gayungpun tak bersambut.
Jatuhlah
iya porak poranda.
Kau benar,
jarak yang memisahkan raga bukanlah apa-apa.
Karena sesungguhnya yang akan menjadi
apa-apa adalah ketika jarak telah memisahkan hati.
0 Comment:
Post a Comment