Sore itu, aku kembali bertemu
dengannya atau lebih tepatnya, kita memutuskan untuk kembali bertemu lagi. Ini
pertemuan pertama kami semenjak dua tahun terakhir ini. Tidak banyak yang
berubah dari kami sore itu. Kami tetap menjalani ritual kedai kopi kami di mana
dia dengan kepulan asap kopi robustanya dan aku dengan apapun minuman selain
kopi yang bisa ku tenggak saat itu. Bedanya, sore ini kami bukan lagi sepasang
kekasih seperti dua tahun yang lalu.
*****
“Elo nembak gue,
Fa? Demi apaa?”
“Iya, kenapa?
Elo gamau?”
“yaa…. Tapi ga
segampang itu kan? Elo ngajakin jadian udah kayak ngajakin beli gorengan. Gue
ga segampang itu tau!”
“iya, gue tau
gue gabisa romantis kayak cowok-cowok ababil lo itu.”
Sontak aku menjadi sewot dan
memasang mimik cemberut terbaikku kala itu. Tapi tidak bisa kupungkiri, saat
itu ada sesuatu yang menggelitik di dalam perutku saat Alfa memintaku untuk
menjadi pacarnya dengan gaya cueknya. Ingin rasanya aku berteriak dan
melompat-lompat kegirangan kala itu. Terima kasih Tuhan, rasa yang selama ini
aku sembunyikan ternyata tidak bertepuk sebelah tangan.
*****
Aku terduduk di teras rumahku
sembari membaca kembali pesan terakhir yang kukirimkan kepada Alfa. Lututku
mendadak lemas, badanku rasanya panas dingin, panas mulai menjalari mata dan
pipiku. Tiba-tiba saja aku tidak lagi sanggup membendung air mataku kala
mendapat balasan pesanku dari Alfa. Alfa mengiyakan ajakanku. Hari itu hubungan
kami berdua sebagai kekasih resmi berakhir.
*****
It is so easy to see dysfunction between you
and me
We must free-up this tired soul before the
sadness kills us both
I tried and tried to let you know I love you
but I’m letting go
It may not last but I don’t know, just don’t
know
******
Sebenarnya aku dan Alfa sempat
bertemu setahun yang lalu di acara reuni SMA namun sepertinya Alfa masih marah
kepadaku, malah kelihatannya cenderung membenciku. Semenjak kepindahannya ke
Aussie untuk melanjutkan kuliah, ia sudah tidak pernah lagi mengabariku. Kala
itu aku benar-benar tidak berdaya, aku sadar semua memang salahku. Menolak
mempertaruhkan masa depan hubungan kami kepada jarak yang membentang ratusan
ribu kilometer. Tapi apalah dayaku, aku hanyalah seorang gadis yang terlalu
takut melawan hukum alam yang nantinya akan diperkeruh jarak.
*****
“So how was your life going?”
“Pretty good. Gimana Aussie?”
“Aussie keren, aku dapat banyak
pengalaman di sana.”
Kemudian hening yang sangat panjang pun mendominasi. Aku
memainkan sedotan Oreo Milkshake-ku, olah tubuh yang biasa kulakukan ketika
canggung.
“Cewek Aussie pasti keren-keren ya?
Cantik-cantik, modis lagi. Aku sering baca gitu di Internet.”
“You read about Aussie? Why?”
”Nope.
Just being curious with that.” Aku rasa pipiku pasti memerah saat ini.
“Kamu masih peduli sama aku, Ca?”
wajahnya tiba-tiba serius menatap kamu.
“ya enggaklah. Geer banget kamu.
Aku tuh cuma iseng aja. Is that really
matter?” aku merasa sangat terpojok dengan pertanyaannya barusan.
Kemudian cowok berambut sedikit
gondrong ini kembali serius menghadap laptopnya. Aku merasa diabaikan dan
membuatku kesal, tapi aku tidak berani lagi merengek-rengek padanya kali ini.
Aku sadar betul semuanya telah berubah di antara kami. Dia pasti tidak akan
membujukku untuk berhenti merajuk kali ini.
Aku sungguh bosan dengan
keheningan yang tercipta ini, belum lagi minumanku sudah hampir habis. Aku
ingin berbincang dengannya maka untuk itulah aku di sini. Aku sangat
merindukannya. Perlu aku tekankan sekali lagi aku rindu padanya. Persetan
dengan ego yang menginjak-injak gengsiku kini jauh di dalam diriku, yang jelas
aku sungguh ingin memperbaiki kerenggangan hubunganku dengannya. Hubungan
pertemananku lebih tepatnya.
Aku memperhatikan lagi lelaki
yang berada di sampingku ini. Ah lelaki brengsek ini. Bagaimana mungkin aku
bisa begitu terperdaya olehnya. Lelaki ini sanggup membuatku menyandang gelar
jomblo terkutuk selama dua tahun terakhir ini. Bukan, bukan karena aku tidak
cantik dan lain-lain, maksudku, hey siapa yang tidak kenal Frisca Adinda Sekar,
tapi memang hatiku tidak bisa dibawa bermain-main di sembarang kisah cinta.
Hatiku sudah terlanjur dirantai si brengsek ini. Si brengsek yang sayangnya
sampai saat ini mampu membuatku mengacuhkan setiap lelaki yang datang
menghampiriku.
****
*bersambung sampai gue dapet ide yang bagus untuk melanjutkan cerita ini
lagi. Hihi doakan yaa guys!*
0 Comment:
Post a Comment