Siang ini gabut luar biasa. Barusan habis selesai makan siang di luar kantor dan mendapati badan rasanya lumer di bawah terik matahari Jakarta. Sesampainya kembali di ruangan kerja seakan ingin memeluk AC sekaligus berkata: "Tuhan terimakasih sudah membantu manusia menciptakan AC yang dingin kayak gini."
"Dasar lebay!"
Kemudian saya termenung sebentar karena sadar akan jarangnya saya bersyukur kepada Tuhan akhir-akhir ini. Padahal begitu banyak hal menyenangkan mulai dari hal kecil yang tidak terlalu berasa efeknya sampai hal besar yang dikaruniai Tuhan yang akhirnya akan mengubah cerita hidup saya di masa yang akan datang.
I feel horrible. Betapa sering saya mengeluh kepada Tuhan atas hal-hal yang terjadi di luar keinginan saya. Atas hal-hal yang Tuhan selipkan guna membuat saya belajar menjadi pribadi yang lebih baik dengan cara yang kadang kurang menyenangkan. Namun terkadang saya selalu lupa bersyukur atas doa-doa saya yang satu persatu dikabulkan oleh-Nya.
Kalau kita berdoa sama Tuhan itu, jawabannya cuma iya. Iya, tapi nanti bukan sekarang saatnya. Iya, tapi diganti yang lain yaa bukan yang ini. Iya, tapi dengan usaha yang lebih dari ini.
Setelah saya renungkan lagi, gue sangat sering berdoa. Uhm, mungkin lebih ke-menuntut Tuhan untuk memberikan hal sesuai keinginan saya dan dengan cara paling menyenangkan bagi saya. Bahkan tidak jarang saya berdoa untuk hal-hal sepele dan muluk-muluk, tapi pada akhirnya Tuhan mengabulkan. Meskipun waktunya tidak selalu beriringan namun Tuhan selalu punya cara dan waktunya sendiri untuk membuat saya terkejut (kemudian lupa bersyukur).
Di suatu hari saya berdoa untuk bisa meraih gelar S1 saya diumur 21. Mengingat sebenarnya saya msaih bisa wisuda di umur 22 karena kebanyakan teman seangkatan saya selesai diumur segitu, tapi tetap saya diwisuda beberapa bulan sebelum memasuki umur 22 tahun. Di saat itu saya masih lupa bersyukur, padahal sahabat-sahabat saya bahkan saat itu masih belum memiliki kepastian akan menyelesaikan studi.
Di suatu sore saya berandai-andai untuk bisa melanjutkan studi saya di luar negeri padahal sebelumnya menyelesaikan S1 saja saya sudah malas-malasan. Kemudian pada akhirnya saat ini saya sudah setengah jalan menyelesaikan studi saya, meskipun pada akhirnya tidak di luar negeri. Tapi Tuhan meng-iya-kan doa saja dengan caranya yang kedua. Terima kasih, Tuhan. Maaf saya masih lupa bersyukur.
Di tengah kegalauan saya mencari pekerjaan, saya sempat hampir putus asa. Di tengah keputus asaan saya, saya berdoa yang diselingi tangis ketakutan dan kepasrahan, saya menginginkan pekerjaan di Kementerian X. Padahal saat itu saya bahkan tidak pernah dan tidak berani mendaftar di sana. Alhamdulillah dua bulan kemudian saya diterima di Kementerian X, dan bekerja sampai sekarang.
Di setiap pembicaraan saya mengenai kelak pria seperti apa yang akan mendampingi saya di masa depan, saya sering berdoa di dalam candaan. Saya ingin pria yang sikap dan pemikirannya dewasa namun juga bisa saya ajak bercanda di level humor saya yang menyedihkan. Saya ingin pria yang mau mencintai saya dengan semua kompleksitas, ketidak-percayaan diri, dan ego serta gengsi saya. Tuhan mengirimkan saya sosok yang mampu membuat saya menangis di dalam tawa saya ketika mendengar candaan bagaimana dirinya mengisi waktu luangnya dengan menghafalkan ijab kabul dengan nama saya. Atas hal ini, saya ingin bersyukur yang sebesar-besarnya kepada Tuhan karena telah mengabulkan satu persatu dari sejuta doa yang saya panjatkan mengenai sosok pendamping di masa depan.
Sampai pada akhirnya saya tiba di titik "Gila ya, gue dulu pernah iseng berdoa minta "ini". Aneh ga sih menurut lo gue pernah doa gitu? Tapi yang lebih anehnya malah dikasih."
For some people, I'm just being lucky for having everything I had for now. For me, God is testing me with being extremely generous and nice. God eventually gives me time to be extremely happy and overwhelmed with good things and wonder will I come back to Him to say thank you or being a jerk and asking even more to Him.
Terima kasih Tuhan, atas segala hal yang telah terjadi di (hampir) 24 tahun kehidupan saya. Ingatkan saya untuk tidak terlalu egois meminta terlalu banyak. Tarik saya kembali ketika saya berjalan terlalu jauh dan lupa untuk bersyukur.
Terima kasih Tuhan, sup ikan kakap siang ini enak meskipun saya tidak suka ikan.
Jakarta, 27 Juli 2018

0 Comment:
Post a Comment