I was so cocky when I thought "Ngapain sih pacaran beda keyakinan, pacaran aja tuh udah ribet, pake beda keyakinan segala, Gue sih kayaknya gabakal mau." Sesaat setelah itu, semesta kemudian menjewer gue dengan segala keangkuhan gue. I fall in love with someone I shouldn't.
Gue terhenyak ketika kita berdua membahas perkara perbedaan yang ada di antara kami. Secara kasat matapun orang awam sudah bisa melihat perbedaannya. Terlahir dalam perbedaan suku bangsa, bahasa, budaya, warna kulit, bahkan dari warna mata saja kita sudah berbeda. 100% tak ada cela. Perbedaan terbesar yang kami miliki adalah padangan terhadap Tuhan. Kami meyakini Tuhan yang berbeda. Meskipun gue bukanlah salah satu Muslim yang taat, yang Shalat aja kurang dari 5 waktu, tapi tetap bagi gue Tuhan yang gue yakini saat ini adalah Tuhan yang akan gue yakini sepanjang hidup. Begitupun dengan dia, meskipun bukan lah seorang Kristiani yang selalu hadir di Gereja hari Minggu, baginya Tuhannya lah yang paling ia yakini.
Terkadang kalau dipikir-pikir, semesta ini usilnya suka jahat dan nyakitin. Kadang semesta mempermainkan perasaan manusia sampai di titik manusia mempertanyakan kewarasannya. Gue selalu merasa bahwa gue adalah orang yang paling sering dipermainkan hatinya oleh semesta ini. Gue adalah orang yang selalu terombang-ambing dalam perasaan yang gue sendiri sulit untuk mengungkapkan. Karena ketika gue belum kelar mendeskripsikan rasa yang saat itu gue rasakan, perasaan baru muncul dan membuyarkan apa yang telah ada.
Ribet ya hidup gue?

They said love has no boundaries.
Love has no label.
There is no right and false to love someone.
Yet we are still struggling with people's opinion.
Segala kemungkinan pasti ada di dunia. Nyatanya mereka yang mencintai sesamanya sekarang sudah bisa menikah secara legal. Benar adanya pernikahan dalam perbedaan keyakinan bisa terjadi dan sah hukumnya di beberapa negara, Kita bisa saja lari dan pindah ke negara tersebut. Tapi apa yang terjadi di dunia tidaklah semata-mata dapat dipertanggung jawabkan nantinya di hadapan Tuhan. And yes, I am not going to do that.
Banyak yang bilang, "Suruh aja dia pindah agama. Pahalanya gede lho buat elo dan buat dia juga. Ga sesulit itu kok prosesnya." Sometimes I just laugh it off. Kenyataannya tidak segampang itu.
Lakum Dinukum Waliyadin
[Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku]
Gue tidak ingin membuat pandangan dia maupun keluarganya ataupun orang-orang di luar Islam menganggap Islam adalah sebuah paksaan. Islam tidak pernah memaksa seseorang untuk menjadi mualaf selain atas kemauan mereka sendiri. Kalaupun kalian pernah melihat orang lain dipaksa untuk masuk Islam, kalian harusnya tau si pemaksa bukanlah seorang Muslim yang mempunyai akhlak terpuji.
Islam is very flexible, tidak sekaku yang orang-orang bilang dan disiarkan di TV.
Itu sebabnya kenapa gue tidak ingin memaksa siapapun untuk mempercayai Tuhan yang gue percaya, sekalipun anggota keluarga gue sendiri. Gue tidak ingin menjadi alasan seseorang untuk memeluk Islam meskipun itu karena cinta. Sama halnya dengan mencintai manusia, seharusnya mencintai itu tidak butuh alasan, karena ketika kita sudah kehabisan alasan bisa jadi cinta itu kemudian memudar dan kita akan mencari alasan untuk mencintai hal lain.
Sekalipun nantinya dia ingin memeluk Islam atas alasan apapun, gue harap nantinya dia memeluk Islam memang karena dia meyakini Islam dan meyakini bahwasanya Allah itu satu-satunya Tuhan yang harus disembah. Karena gue sadar, banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam mencintai diumur gue yang sekarang ini.
For now, let's just love each other over these differences. Soon, we'll figure it out
For now, let's just love each other over these differences. Soon, we'll figure it out

0 Comment:
Post a Comment