Halo
anakku, ini aku Ibumu.
Hari
ini 1 bulan menuju umur Ibu yang ke 21. Ntah mengapa Ibu ingin sekali menulis
untukmu. Meski semua orang tau masih banyak waktu nantinya sampai akhirnya kamu
membaca tulisan Ibu.
Ketahuilah
nak, saat ini ketika orang lain membaca tulisan Ibu, mereka akan berpikir Ibumu
ini sudah kehilangan akal sehatnya karena menulis ini untukmu. Tapi mereka
tidak salah, Nak. Hanya saja mereka heran mengapa Ibu menulis surat ini
untukmu, buah hatiku kelak, padahal Ibu belum pernah bertemu dengan (orang yang
nantinya akan menjadi) Ayahmu. Namun ketahuilah nak, bahwasanya meskipun Ibu
belum bertemu dengannya, Ibu sudah terlebih dahulu mencintaimu. Bahkan sebelum
Ibu mengetahui rupamu, Ibu sudah menyayangimu.
Anakku,
mungkin saat ini Ibu belum mengetahui rupamu, perilakumu, bahkan Ibu masih
belum tahu apakah nantinya kamu akan berubah menjadi kalian. Tapi seperti
apapun nantinya rupamu, seperti apapun perilakumu, dan akan berapa orang yang
akan nantinya kupanggil anakku, Ibu akan selalu sayang kamu. Sebagaimana Nenek
menyayangi Ibu dengan semua kelebihan dan kekurangan yang Ibu punya.
Anakku,
maafkan Ibu jikalau nantinya Ibu menjadi wanita yang cerewet dan selalu
mengomelimu. Ketahuilah bahwa Ibu hanya ingin kamu mendengarkanku dan akan
mengingat semua perkataanku meski nantinya tiba masaku untuk tidak lagi dapat
berbicara padamu.
Maafkan
Ibu bila nantinya ketika kamu mulai memasuki usia pubermu, Ibu akan menjadi
sangat selektif dan memantau siapa saja orang yang ada di pergaulanmu. Ibu hanya
tidak ingin nantinya kamu tersakiti oleh orang yang lebih kamu percayai untuk
bercerita mengenai gelora masa mudamu ketimbang Ibu.
Maafkan
Ibu nantinya bila menjadi orang tua yang kolot dan tidak fleksibel mengenai jam
malammu. Ibu hanya ingin memastikan buah hatiku memiliki waktu yang cukup untuk
tertidur lelap di kamarnya yang nyaman di malam hari. Mungkin Ibu akan
mengizinkanmu untuk keluar malam dengan aturan dan perjanjian yang nantinya
sudah Ayah dan Ibu sepakati denganmu.
Maafkan
Ibu nantinya bila Ibu menjadi kritis terhadap pengeluaranmu karena Ibu hanya
ingin mengajarkanmu bagaimana cara menghargai uang dan mengajarkan kembali
padamu apa yang telah Kakek ajarkan kepada Ibu. Hidup menjadi orang miskin itu
jauh lebih sulit nak, dibandingkan hidup menjadi orang kaya. Ibu tidak perlu
mengajarkanmu tentang bagaimana hidup menjadi orang kaya karena nantinya kamu
bisa mempelajarinya sendiri setelah mengalaminya. Tapi hidup di tengah segala
kekurangan tidak akan semudah itu untuk dipelajari, semuanya harus dibiasakan. Kita
tidak pernah tahu rencana Tuhan untuk masa depanmu, nak. Mohonlah bersabar
selagi Ibu membuatmu terbiasa dengan hidup yang cukup meskipun Ibu berjanji
akan berusaha keras agar kelak nantinya kita bisa hidup lebih dari cukup.
Tapi
tenanglah nak, Ibu tidak akan menjadi pelit ketika itu menyangkut tentang
Kesehatan dan Pendidikanmu. Ibu dan Ayah akan berusaha sekeras mungkin untuk
memberikanmu yang terbaik, karena uang tiada artinya ketimbang senyum bahagia
di wajah anakku yang sehat dan cerdas.
Nak,
mungkin saat ini Ibu masih belum bisa untuk menyajikan sesuatu yang rasanya
akan selalu membuatmu mengingat Ibu. Sesuatu yang nantinya menjadi alasanmu
untuk pulang ke rumah demi masakan Ibu. Tapi Ibu berjanji padamu, Ibu akan
selalu belajar untukmu. Ibu akan berusaha sepenuh hati Ibu agar nantinya apa
yang kamu makan menjadi berkah bagi dirimu dan kesehatanmu. Doakan Ibu ya, nak.
Nak,
mungkin nanti akan tiba masanya kamu membenci semua laranganku, membantah semua
ucapanku, dan merasa tersakiti karena perkataanku ketika memarahimu, tapi
janganlah berhenti mendengarkanku ataupun membenciku. Cukup dengarkan saja,
karena Ibu hanya ingin didengar. Jangan bantah Ibu, karena Ibu tidak suka
dibantah. Hanya saja tolong pastikan nantinya di usiamu yang memasuki 20 tahun,
beritahu Ibu bahwasanya apa yang Ibu katakan telah menyelamatkan masa depanmu,
seperti yang Ibu lakukan pada Nenekmu.
Saat
ini, di umur Ibu yang menuju 21 Ibu masih menunggu akan kedatangan Ayahmu yang
Ibu sendiri belum punya gambaran akan dirinya. Doakan Ayahmu ya Nak, agar
segera menemukan jalannya kembali ke rumah. Kepadaku. Ibumu.
Ibu
harap bisa segera bisa bertemu dengannya, karena ketika Ibu bertemu dengannya,
Ayah dan Ibu akan segera bertemu denganmu.
Bantulah
kami berdua melalui doamu, agar kelak Ayah dan Ibu bisa menjadi orang tua yang
layak dan berkompeten dalam membesarkanmu layaknya Kakek dan Nenek membesarkan
Ayah dan Ibu. Atau bahkan lebih dari itu.
Sudah
dulu ya, Nak. Ibu tidak sabar menunggumu untuk hadir di dalam kehidupan Ibu dan
melihatmu berkembang hingga akhirmya bisa membaca tulisan Ibu. Dan bila hari
itu telah tiba, Ibu hanya mengingatkan bahwa Ibu akan selalu mencintaimu baik
hari ini, esok, dan seterusnya di masa depan. Bahkan ketika raga sudah tidak
lagi dapat merangkul dan memelukmu bahkan menciummu, Ibu tetap cinta kamu.
Padang,
31 Oktober 2015
Aku
yang bangga memanggil diriku, Ibumu J
0 Comment:
Post a Comment