10/31/15

Kepada Kamu, Masa Depanku

Ajeng Novia Anggraini
Halo anakku, ini aku Ibumu.
Hari ini 1 bulan menuju umur Ibu yang ke 21. Ntah mengapa Ibu ingin sekali menulis untukmu. Meski semua orang tau masih banyak waktu nantinya sampai akhirnya kamu membaca tulisan Ibu.

Ketahuilah nak, saat ini ketika orang lain membaca tulisan Ibu, mereka akan berpikir Ibumu ini sudah kehilangan akal sehatnya karena menulis ini untukmu. Tapi mereka tidak salah, Nak. Hanya saja mereka heran mengapa Ibu menulis surat ini untukmu, buah hatiku kelak, padahal Ibu belum pernah bertemu dengan (orang yang nantinya akan menjadi) Ayahmu. Namun ketahuilah nak, bahwasanya meskipun Ibu belum bertemu dengannya, Ibu sudah terlebih dahulu mencintaimu. Bahkan sebelum Ibu mengetahui rupamu, Ibu sudah menyayangimu.

Anakku, mungkin saat ini Ibu belum mengetahui rupamu, perilakumu, bahkan Ibu masih belum tahu apakah nantinya kamu akan berubah menjadi kalian. Tapi seperti apapun nantinya rupamu, seperti apapun perilakumu, dan akan berapa orang yang akan nantinya kupanggil anakku, Ibu akan selalu sayang kamu. Sebagaimana Nenek menyayangi Ibu dengan semua kelebihan dan kekurangan yang Ibu punya.

Anakku, maafkan Ibu jikalau nantinya Ibu menjadi wanita yang cerewet dan selalu mengomelimu. Ketahuilah bahwa Ibu hanya ingin kamu mendengarkanku dan akan mengingat semua perkataanku meski nantinya tiba masaku untuk tidak lagi dapat berbicara padamu.

Maafkan Ibu bila nantinya ketika kamu mulai memasuki usia pubermu, Ibu akan menjadi sangat selektif dan memantau siapa saja orang yang ada di pergaulanmu. Ibu hanya tidak ingin nantinya kamu tersakiti oleh orang yang lebih kamu percayai untuk bercerita mengenai gelora masa mudamu ketimbang Ibu.

Maafkan Ibu nantinya bila menjadi orang tua yang kolot dan tidak fleksibel mengenai jam malammu. Ibu hanya ingin memastikan buah hatiku memiliki waktu yang cukup untuk tertidur lelap di kamarnya yang nyaman di malam hari. Mungkin Ibu akan mengizinkanmu untuk keluar malam dengan aturan dan perjanjian yang nantinya sudah Ayah dan Ibu sepakati denganmu.

Maafkan Ibu nantinya bila Ibu menjadi kritis terhadap pengeluaranmu karena Ibu hanya ingin mengajarkanmu bagaimana cara menghargai uang dan mengajarkan kembali padamu apa yang telah Kakek ajarkan kepada Ibu. Hidup menjadi orang miskin itu jauh lebih sulit nak, dibandingkan hidup menjadi orang kaya. Ibu tidak perlu mengajarkanmu tentang bagaimana hidup menjadi orang kaya karena nantinya kamu bisa mempelajarinya sendiri setelah mengalaminya. Tapi hidup di tengah segala kekurangan tidak akan semudah itu untuk dipelajari, semuanya harus dibiasakan. Kita tidak pernah tahu rencana Tuhan untuk masa depanmu, nak. Mohonlah bersabar selagi Ibu membuatmu terbiasa dengan hidup yang cukup meskipun Ibu berjanji akan berusaha keras agar kelak nantinya kita bisa hidup lebih dari cukup.

Tapi tenanglah nak, Ibu tidak akan menjadi pelit ketika itu menyangkut tentang Kesehatan dan Pendidikanmu. Ibu dan Ayah akan berusaha sekeras mungkin untuk memberikanmu yang terbaik, karena uang tiada artinya ketimbang senyum bahagia di wajah anakku yang sehat dan cerdas.

Nak, mungkin saat ini Ibu masih belum bisa untuk menyajikan sesuatu yang rasanya akan selalu membuatmu mengingat Ibu. Sesuatu yang nantinya menjadi alasanmu untuk pulang ke rumah demi masakan Ibu. Tapi Ibu berjanji padamu, Ibu akan selalu belajar untukmu. Ibu akan berusaha sepenuh hati Ibu agar nantinya apa yang kamu makan menjadi berkah bagi dirimu dan kesehatanmu. Doakan Ibu ya, nak.

Nak, mungkin nanti akan tiba masanya kamu membenci semua laranganku, membantah semua ucapanku, dan merasa tersakiti karena perkataanku ketika memarahimu, tapi janganlah berhenti mendengarkanku ataupun membenciku. Cukup dengarkan saja, karena Ibu hanya ingin didengar. Jangan bantah Ibu, karena Ibu tidak suka dibantah. Hanya saja tolong pastikan nantinya di usiamu yang memasuki 20 tahun, beritahu Ibu bahwasanya apa yang Ibu katakan telah menyelamatkan masa depanmu, seperti yang Ibu lakukan pada Nenekmu.

Saat ini, di umur Ibu yang menuju 21 Ibu masih menunggu akan kedatangan Ayahmu yang Ibu sendiri belum punya gambaran akan dirinya. Doakan Ayahmu ya Nak, agar segera menemukan jalannya kembali ke rumah. Kepadaku. Ibumu.

Ibu harap bisa segera bisa bertemu dengannya, karena ketika Ibu bertemu dengannya, Ayah dan Ibu akan segera bertemu denganmu.

Bantulah kami berdua melalui doamu, agar kelak Ayah dan Ibu bisa menjadi orang tua yang layak dan berkompeten dalam membesarkanmu layaknya Kakek dan Nenek membesarkan Ayah dan Ibu. Atau bahkan lebih dari itu.

Sudah dulu ya, Nak. Ibu tidak sabar menunggumu untuk hadir di dalam kehidupan Ibu dan melihatmu berkembang hingga akhirmya bisa membaca tulisan Ibu. Dan bila hari itu telah tiba, Ibu hanya mengingatkan bahwa Ibu akan selalu mencintaimu baik hari ini, esok, dan seterusnya di masa depan. Bahkan ketika raga sudah tidak lagi dapat merangkul dan memelukmu bahkan menciummu, Ibu tetap cinta kamu.

Padang, 31 Oktober 2015


Aku yang bangga memanggil diriku, Ibumu J

Ajeng Novia Anggraini / Author & Editor

Ajeng Novia Anggraini or sometimes called as JJ is an Indonesian blogger who blogs about her daily life and another conspiracy around her

0 Comment:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism

Distributed By Gooyaabi Templates