Jadi ceritanya long weekend ini gue habiskan bersama salah seorang sahabat. Berhubung perkuliahan gue baru di mulai Senin ini, jadilah kita memutuskan buat ketemuan di hari Jumat. Kita emang se-kota, tapi bener-bener sulit untuk bertemu dia karena kesibukan kita masing-masing. Bahkan di hari Sabtu pun terkadang kita ga bisa ketemu. Gue yang terkadang punya acara dadakan atau dia yang masih kuliah di hari Sabtu. Maklum sih, jadwal kuliahnya anak kedokteran ini memang terkadang suka tidak relevan dengan mahasiswa awam seperti kita. Jadilah pada akhirnya, berhubung kemarin tanggal merah bertepatan dengan tahun baru Imlek dan jatuh di hari Jumat maka kamipun memutuskan untuk bertemu.
Tidak banyak sih hal yang bisa dilakukan mengingat di kota ini sangat minim tempat hiburan yang layak didatangi jadi kami memutuskan hanya makan-makan saja (ritual paling sakral di kehidupan gue). Kebetulan beliau ini adalah salah satu sahabat gue yang cukup nyambung dalam urusan perut. Kami memutuskan untuk mengobrol dan bercerita tentang kehidupan kami masing-masing. Kemudian mulailah gue bercerita tentang perkuliahan gue beserta teman-teman gue yang sarapnya ampun-ampunan. Bercerita dengan heboh bagaimana kini gue mulai merintis sebuah organisasi yang cukup ternama di kampus. Yaa gue tetaplah gue yang selalu dominan dalam setiap pembicaraan, tipikal seorang sanguinis. Kemudian setelah gue merasa sudah terekspos secara luar dalam di hadapannya dia pun mulai bercerita mengenai perjalanannya kini untuk menjadi seorang dokter muda. Gue pun terlarut dalam ceritanya. Gue memang tidak pernah sekalipun mencita-citakan untuk menjadi seorang dokter, karena bagi gue menjadi dokter hanyalah cita-cita gue ketika taman kanak-kanak. Semakin gue dewasa gue menemukan banyak hal baru dan lebih menarik untuk dicita-citakan (iya, gue memang selabil itu). Tapu tidak dapat dipungkuri, gue punya ketertarikan yang besar terhadap dunia medis terutama perkembangannya, jadi gue bersyukur beberapa sahabat gue menjadi dokter, setidaknya gue jadi tau lebih banyak ketika gue mengobrol tanpa mesti membuka jurnal medis.
Ya singkat cerita kamipun selesai membahas perihal perkuliahan dan hal-hal lain di sekitarnya. Tentunya bila dua orang gadis bertemu, belum afdhol rasanya bila belum membicarakan tentang lawan jenis. Dan dia adalah salah satu sahabat favorit gue untuk berdiskusi perkara hati dan perasaan.
Jujur saja, kami berdua benar-benar sangat berbeda dalam hal yang satu ini. Gue adalah orang yang tergolong gampang (banget) untuk jatuh hati, gabisa liat yang bening dikit langsung mupeng. Gitu deh kasarnya. Sementara dia adalah salah satu orang yang sangat selektif dalam memilih orang untuk, jangankan ditaksir, dikagumin aja milih dulu orangnya. Makanya terkadang dia suka gemes sendiri ama gue soalnya dalam tiga bulan kami bertemu mungkin bisa ada sampai 5 orang nama pria berbeda yang gue sebut (sebutin aje, boro-boro dipacarin, kadang gue suka ilfil duluan). Namun meski berbeda cara untuk jatuh hati, kami berdua memiliki kesamaan: sama-sama susah move on dan sama-sama jomblo dalam kurun waktu yang lama banget!
Dari dulu memang tidak banyak lelaki yang dua sebut-sebut dalam hidupnya. Bisa dihitung pake jari. Dan satu yang gue tau pasti, begitu dia menjatuhkan hatinya ke satu orang, dia akan stuck di sana untuk kurun waktu yang sangat lama tidak perduli apa yang terjadi.
Dia juga adalah salah seorang yang gue paling ga ngerti jalan pikirannya dalam urusan gebet menggebet. Bayangin aja, dia betah mengagumi seseorang selama bertahun-tahun dan berbulan-bulan tanpa nge-add facebook gebetannya. Jadi cuma buka profilnya si gebetan dan ngeliat tulisan 'Add as Friend' terus liatin Profil Picture kenudian yaudah, gitu aja. I mean, what's on earth with that way?
Semuanya gue anggap biasa aja sampai pada akhirnya gue capek sendiri liat dia melakukan admiring dengan cara begitu. Jadi situasinya begini, dia bisa dikatakan awalnya hanya naksir yang ga naksir-naksir banget (tafsirkan sendiri) sama seorang dokter muda yang jadi pembimbing diskusinya. Awalnya sih gue cuek aja gitu, kan emang banyak cowok-cowok yang kalo dipakein baju putih dokter itu jadi mendadak cakep banget menyilaukan. Tapi ternyata makin ke sini naksirnya dia jadi naksir senaksir-naksirnya banget gitu. Akhirnya gue dengan tanduk setan gue ini membujuk rayu dia untuk make a move sedikitlah, minimal memperkenalkan diri ke si dokter supaya minimal dia notice mukanya si temen gue ini. Dia sih cuma iya-iyain aja apa yang gue bilang. Kemudian taukah anda apa yang dia lakukan? Dia hanya lewat di depan si dokter dan cuma senyum sekitar 5 detik kemudian ngibrit! Dan si dokterpun gue rasa ga ngeh juga dia senyum apa nyengir gara-gara kebelet.
Kemudian gue juga pernah maksa dia buat sekedar nge-add akun facebooknya si dokter. Dan kalian tahu apa yang terjadi di akhir cerita? Dia tetep gamau add dan akhirnya gue yang nge-add sendiri akun facebook si dokter pake akun gue. IYA! PAKE. AKUN. GUE! And after he accepted that, I have no idea what the hell do I supposed to do next with that account. Karena gue takut jatuh cinta juga sama si dokter muda ini dan mengakibatkan perang dunia kesekian, akhirnya akun doi gue hapus. Iya, gue jadi ikutan sinting juga.
But yeah, that's my friend. Kini sudah memasuki tahun kedua dia jadi penggemar rahasianya sang dokter muda tanpa melakukan apa-apa dan bahkan si targetpun dikhawatirkan ga kenal sama sekali ama dia. Dan dia pun ga keberatan dengan itu. Sampai pada akhirnya waktulah yang memberikan keputusan untuk mengakhiri segala perasaan. Bulan April di tahun ini sang dokter akan segera menikah dengan salah seorang perempuan pilihannya. Dan di titik ini sudah dipastikan temen gue kecewa setengah mati. Ya, guepun gatau mesti menghibur seperti apa karena gue sendiri sejujurnya kehabisan kata-kata. Gue cuma bisa bilang "ya selama janur kuning belom melengkung kita masih bisa berharap suatu keajaiban yang bikin dia ga jadi nikah kan?" Iya, gue emang jawab seenak udel doang di saat kehabisan bahan untuk menghibur. But they are true, aren't they? Dan tahukah elo pada jawaban dia?
"Huss, gaboleh gitu ah. Kita gaboleh berharap yang jelek-jelek gitu. Aku berharap dia emang jadi married dan bahagia. Bukannya dulu kamu yang pernah bilang kalo cinta yang sebenernya itu adalah bisa ikut bahagia di atas penderitaan orang yang kita cinta meski bagi kita rasanya kayak neraka?"
Oh shit. Gue bukan lagi kehabisan kata-kata saat itu. Tapi rasanya gue sudah kehabisan oksigen untuk bernafas kemudian megap-megap ga karuan. Really? I've ever said those fluffy words? Rasanya saat itu juga gue ingin menampar diri gue sendiri dan membenamkan muka di air keras. Tau apa lo tentang cinta Jeng? Tau apa lo tentang gimana rasanya mengikhlaskan segini pahit? Tahu apa?
Apa yang gue saat ini saksikan adalah bentuk cinta tanpa syarat? Cinta yang tumbuh tanpa paksaan dan harus berakhir dengan kerelaan. Cinta yang bahkan harus layu saat belum sempat berkembang. Cinta dalam diam yang bahkan tidak satu binatang maupun manusia sanggup mendengar maupun menciumnya. Cinta yang hanya dia dan Tuhan saja yang tahu bahwa dia sangat mencintainya. Cinta yang akhirnya harus pasrah dihembuskan sang angin menuju ketiadaan.
Apapun itu, aku kini belajar banyak tentang apa itu mencintai yang benar-benar didasari cinta. Terimakasih teman, sudah membuka mataku tentang cara mencintai cinta dan maaf, aku hanyalah seseorang yang mampu merangkai kata indah untuk melipur lara sesaat tanpa mampu dan sanggup benar-benar terbenam di dalam lautan cinta seindah kata yang kurangkai.
0 Comment:
Post a Comment