3/10/14

For my dearest old man

Ajeng Novia Anggraini

Hai, Pah.
Papa apa kabar?
Rasanya aku ga inget kapan tetakhir kali aku menanyakan pertanyaan tersebut secara langsung. Kita emang jarang banyak berbasa-basi kayak gitu. Biasanya apa yang kita omongin seputar masalah-masalah yang langsung to the point.

Pa, bahkan saat ini meskipun aku ga lagi ngomong langsung di depan papa, aku masih ga sanggup untuk menguntai kata-kata mabis dengan indah. Gatau kenapa, rasanya kemampuan menulis puitisku malam ini mendadak buyar begitu aku ingin menulis tentang papa. Seakan aku tidak sanggup menyuarakan isi hatiku ke papa dalam media apapun. Tapi pa, aku akan mencoba untuk meneruskan tulisan ini.

Pa, mungkin aku adalah anak papa yang paling banyak dan paling sering bikin papa khawatir. Sebagai anak sulung, mungkin aku sering bikin papa stress sama tingkah-tingkah aku.

Masih inget masa-masa SMP ku, pa? Di mana aku berperilaku tidak sesuai dengan bagaimana seharusnya aku berperilaku sebagai anak perempuan. Aku lebih cenderung seperti anak lelaki dan bertingkah di kuar normaku sebagai anak perempuan. Masih ingat berapa banyak teriakan, omelan, bentakan, serta hardikan yang di alamatkan oleh Mama kepadaku saat itu karena tingkah bandelku? Terimakasih ya Pa, karena saat itu Papa lebih memilih untuk tidak ikut-ikutan memojokkanku atas kebodohan masa remajaku. Terima kasih ya Pa karena selalu pasang badan tiap kali mama mengomeliku.

Masa SMA ku juga tidak kalah merepotkan Papa kan? Di awal masa SMA aku masihlah anak yang belum menuruti kodratnya sebagai wanita. Aku masih ingat jelas suatu kali aku berkelahi hebat dengan salah seorang anak cowok dari sekolahku. Waktu itu aku mati-matian menutupi masalah itu di rumah. Aku takut Papa dan Mama akan memarahiku saat itu karna saat itu kejadiannya bahkan sudah diketahui Kepsek. Namun pada akhirnya mama diberi tahu oleh wakil kepala sekolah. Reaksi mama? Pastilah dia mengamuk sedemikian rupa karena sudah jengah terlalu sering mendapat laporan bahwa aku berkelahi di sekolah terutama dengan anak laki-laki. Tapi reaksi papa waktu itulah yang aku ingat sampai hari ini. Tepat seperti dugaanku, Papa marah besar. Tapi yang mengherankannya Papa bukannya marah kepadaku tapi malah ke teman cowokku. Aku masih ingat jelas kala itu papa mengancam akan menemui anak laki-laki yang sudah berani menganggu anak gadisnya. Akhirnya dari situ aku sadar Pa, aku ternyata papa ingin aku menjadi seorang anak gadis dengan segala kelembutan yang ada. Dari situ aku perlahan berubah.

Perubahan itu perlahan membuatku tidak lagi menjadikan pria sebagai musuh maupun sekedar sahabat. Seiring berjalannya waktu, hormonku bergejolak. Masa puberku membawa perasaanku berubah terhadap pria. Aku tau bahwa Papa tau pasti kapan aku pertama kali punya pacar dan dengan siapa. Tentu aku tidak pernah memberi tahu Papa. Tapi aku inget dengan jelas nasihat Papa pagi itu sewaktu Papa mengantarku ke sekolah.

"Mbak, tau ga kalo sebenernya perempuan itu sebenernya jauh lebih cepat dewasa dari laki-laki. Pemikiran perempuan lebih cepet matang daripada laki-laki. Jadi kalo Mbak punya pacar yang umurnya sama, Papa takutnya ntar bukannya dia yang jagain Mbak, tapi malahan ntar malah Mbak yang ngemong dia."

A quite simple conversation, tapi waktu itu rasanya aku pengen cepet-cepet turun dari mobil karena udah ga sanggup nahan nangis. Iya Pa, aku emang keliatannya aja ga pernah nangis, tapi sejujurnya setiap papa habis nasehatin aku, aku selalu gabisa nahan diri buat ga nangis. Bukan karena aku ga suka, tapi karena aku sadar, dibalik segala kecuekan dan kediaman papa, papa sebenernya sering merhatiin aku.

Oiya ada lagi kejadian yang bener-bener bikin aku nangis sejadi-jadinya setelah dapet nasehat dari Papa. Aku lupa dengan jelas kejadiannya tapi waktu itu aku bikin masalah lagi di sekolah sampe-sampe bikin mama marah dan gamau ngomong sama aku berhari-hari. Aku yang waktu itu (dan sampe sekarang) emang dasar anaknya ndableg, menganggap masalah itu pasti bakal selesai di keesokan harinya. Malem itu ntah kenapa papa tiba-tiba ikutan makan di sebelah aku, hal yang jarang banget bisa kita lakuin, makan bareng. Kemudian tiba-tiba di sela-sela makan papa bilang:
" Ajeng tau ga, Ajeng tuh anak papa yang paling Papa banggain. Papa paling seneng kalo udah cerita ke temen-temen Papa atau sodara-sodara lain tentang Ajeng. Ajeng anaknya mandiri, pinter, meskipun kadang ngeyel, trus susah dibilangin. Papa yakin Ajeng bisa jadi panutan buat adek-adek. Mereka semua bakal nyontoh apa yang Mbak nya kerjain. Papa pengennya kalian semua bikin Papa bangga, jadi kamu sebagai contohnya mereka harus bisa bikin mereka jadi ga bandel. Papa pengen anak-anak papa semuanya bisa jadi kebanggaannya papa."

Buat sebagian orang mungkin hal tersebut sederhana, tapi ga buat aku. Dan mungkin juga buat orang lain, mereka bakal lari meluk papanya, tapi ga buat aku. Aku justru hanya diam mematung dan bahkan ga sanggup lagi buat nelen nasi yang udah ada di mulut. Pipiku panas, makanya aku cuma iyain kata Papa doang kemudian kabur ke kamar. Aku ga pernah pengen Papa, Mama, atau adek-adek liat aku nangis. Makanya dalam setiap momen sentimentil yang terjadi di rumah aku selalu ngilang (iya pa, anakmu ini penyakit melankolisnya parah sekali).

Mungkin banyak sekali yang bisa aku tulis di sini tentang Papa. Tapi mungkin aku tetep gapernah bisa berucap begitu banyak di depan kata. Rasa cinta dan sayang aku yang terlalu besar ke papa membungkam mulutku ketika aku harus mengatakan kata-kata sayang. Maka, aku mohon papa mendoakanku semoga suatu hari nanti aku bisa mendapatkan seorang pria lain yang seperti papa. Pria yang mencintaiku dengan sedikit kata namun terasa, pria yang selalu memperhatikanku di dalam diamnya, dan pria yang selalu membisikkan namaku di dalam doanya.

Dan juga, aku ingin suatu hari nanti aku bisa mencintai pria itu seperti halnya aku mencintai papa. Mencintainya terlalu dalam hingga aku tidak lagi bisa mengucapkan kata-kata yang fana tentang cinta.

Hari ini Pa, tepat 51 tahun umur papa. Hari ini aku belum telfon papa, bukan karena gengsi atau apa, tapi memang aku tidak tahu harus berkata apa. Maka dari itu aku hanya mengirimi papa pesan singkat yang menandakan aku tidak lupa hari lahir papa, dan tidak akan pernah lupa.

Pa, semoga doa sudah terbaik untuk Papa sudah aku panjatkan. Semoga papa selalu diberi kesehatan, kemudahan, dan kebahagiaan di dlam hidup papa. Semoga papa selalu bisa menemani aku di setiap fase dan tahap baru di hidup aku. Dan semoga aku selalu menjadi kebanggaannya papa.

Terima kasih ya Pa, sudah menghadirkan aku ke dunia. Terima kasih juga sudah mengajarkan aku nilai-nilai kehidupan. Terima kasih juga sudah selalu mencintai aku dengan apa adanya diriku.

Pa, Ajeng sayang Papa :)
Selamat ulang tahun.

Ps: Papa selalu pengen aku bisa belajar toto kromo adat jawa sebagai wanita. Iya pa, Insya Allah nanti ada waktunya aku bakal jadi gadis seutuhnya. Mungkin kalo aku sudah mendapatkan pria yang tepat untuk menjadikanku seorang wanita seutuhnya. Dan bila waktu itu datang, aku mohon restu papa :"D

Ajeng Novia Anggraini / Author & Editor

Ajeng Novia Anggraini or sometimes called as JJ is an Indonesian blogger who blogs about her daily life and another conspiracy around her

0 Comment:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism

Distributed By Gooyaabi Templates