Siang ini aku memilih tempat duduk yang sama di cafe yang sama dengan segelas frappucino di hadapanku. Ritual yang rutin kulakukan, sama rutinnya dengan pria yang berada di meja seberangku. Pria yang selalu membelakangiku di cafe ini. Ntahlah, ntah mengapa kami sama-sama suka menempati kursi yang sama dan jam berkunjung yang sama setiap harinya, seolah ini adalah sebuah keharusan yang sudah dijadwalkan.
Semenjak cafe ini pertama kali di buka memang aku dan dia sudah menempati tempat duduk yang sama. Ntah kebetulan atau kesengajaan, aku dan dia tidak pernah menukar posisi tempat duduk kami. Dan entah kesengajaan atau konspirasi alam, tidak ada pengunjung yang mengambil tempat duduk kami di jam-jam kunjungan kami, seolah semesta menginginkan formasi ini untuk menumbuhkan gelombang-gelombang tak terisyaratkan di batinku.
Aku biasa menulis atau membaca novel di cafe ini ketika senja sampai kemudian cakrawala memekat dan menaburkan cahaya bintang di atas sana. Ntah mengapa aku sangat menyukai tempat ini semenjak pertama kali aku menginjakkan kakiku di sini. Begitupun dengannya, dia juga berkunjung di jam yang sama denganku. Mungkin ini sudah tahun ke dua aku dengan rutin melihatnya di sini. Yang dilakukannya pun sama setiap harinya, memesan kopi robusta pekat dan kental, kemudian dengan tekun mengamati layar MacBook nya.
Ada pepatah yang mengatakan bahwa cinta datang karena terbiasa, namun tidak ada yang pernah bilang bahwa cinta datang padaku dengan cara seperti ini. Dua tahun sudah dia duduk membelakangiku tanpa menoleh kepadaku. Kami tidak pernah sekalipun bertegur sapa. Hanya aku saja yang menikmati pemandangan punggungnya sambil menerka-nerka seperti apa warna matanya. Rasa penasaranku membawaku untuk selalu mengimajinasikan rupanya sampai ke dalam mimpiku. Dan setiap fantasiku berakhir, selalu meninggalkan lengkungan senyun di wajahku. Ya Tuhan, pertanda apakah ini?
Mengherankan untukku bisa mencintai seseorang yang hanya kukenal sebatas punggung. Jangan siapa namanya, warna matanya pun aku tak tahu pasti. Bagaimana lekuk rupanya pun masih misteri bagiku. Apalagi apa pekerjaannya. Dia bisa saja penulis juga sepertiku, atau pegawai sebuah perusahaan atau apalah. Semua bisa menjadi kemungkinan. Tapi pengetahuanku akan dirinya sangatlah minim bahkan bisa dibilang nihil. Bagaimana mungkin Tuhan, Engkau bisa menghadirkan rasa ini di sanubariku. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai orang yang bahkan tidak pernah menoleh sedikitpun padaku. Dan bagaimana bisa pula aku tidak memiliki kekuatan untuk menahan pandanganku agar tidak jatuh hati terlalu dalam setiap kali menatap punggungnya?
Aku terus bertanya dan mempertanyakan sampai akhirnya letih dan bosan. Pada akhirnya detik ini aku menerima semua rasa yang semesta suguhkan padaku. Rasa cinta kepada seorang pria yang kucintai walau hanya bisa kukenal dan nikmati sebatas punggung.
Ps:
I couldn't say you happy birthday directly, but this post is dedicated for your day, Mbel. I wish you very happy birthday :)
Game Online... GabunG : ke F4n583771nG Pendaftaran Free ^o^
ReplyDelete