Kala itu gue sedang duduk di sebuah kafetaria
yang cukup terkenal di kota ini. Ditemani semangkuk bakso, segelas Es The Manis
di bawah tirisan hujan. Gue basah kuyup dan kedinginan, tapi beruntung
semangkuk bakso ini menyelematkan. Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan
dalam semangkuk bakso ini, Jeng?
Di tengah hujan gue melihat sesosok pria yang
mengais rejeki di tengah derasnya air hujan. Ya, pria itu tukang parkirnya kafe
ini. Beliau tetap mengatur kendaraan yang keluar masuk di tengah hujan yang turun
dengan derasnya. Gue liat beliau mengigil, kedinginan. Bibirnya pucat, badannya
gemetaran saat dia duduk di seberang gue sambil memperhatikan kendaraan yang
lalu lalang. Gue jadi berpikir, apa jadinya tempat parkir kecil ini kalau
beliau tidak ada. Orang-orang pasti dengan seenak mereka memarkirkan
kendarannya sehingga bisa saja orang lain yang ingin keluar terhalang oleh
kendaraan-kendaraan lainnya.
Pikiran gue kembali mengalir seiring derasnya
hujan yang jatuh. Kira-kira bapak ini udah punya anak ga ya? Kalo iya, gue
yakin dia ngelakuin ini, rela hujan-hujanan dan lari larian tanpa menggunakan
alas kaki, demi anaknya. Gue jadi berpikir, gimana seandainya gue berada di
posisi anaknya bapak ini. Gue pasti bangga dan salut atas perjuangan beliau.
Setidaknya uang yang ia hasilkan ini halal, ketimbang mereka yang menghabiskan
waktunya seharian di ruangan ber-AC, nyaman, dan cuma ongkang-ongkang kaki tapi
bisa menghasilkan miliaran rupiah.
Beberapa menit kemudian gue liat ada anak
kecil lari-larian di tengah hujan berseragam putih merah. Bapak tadi
menyodorkan sebuah bungkusan ke anak tersebut. Ah, pasti ini anaknya bapak itu.
Anak itu juga menggigil kedinginan, lalu ia membuka bungkusan yang ternyata
isinya gorengan. Anak itu keliatannya lapar karna dia makan tanpa babibu. Bapak
tadi memperhatikan anaknya, sambil tersenyum. Tanpa sadar ada sesuatu di
pelupuk mata gue. Ya Tuhan, itu senyum ketulusan. Gue jadi inget papa gue di
rumah, dan gue pengen nangis kejer sambil guling-gulingan, dan kemudian tersadar
ini tempat umum. Nyesek.
Tanpa sadar mangkuk bakso gue terasa dingin,
karena gue gamau menyia-nyiakan apa yang sudah gue dapatkan dan apa yang telah
bokap gue perjuangkan untuk gue, gue makan tanpa napas (teteup).
Well, setidaknya hari ini gue belajar banyak
dari bapak ini. Ternyata serba kekurangan juga tetap bisa membuat orang
bahagia. Tapi ada syaratnya, bersyukur. Ya karena dengan bersyukur kita akan
merasa apa yang Tuhan kasih ke kita itu lebih dari cukup. Kalau orang bilang
bahagia itu sederhana, ya memang sederhana. Kita bisa belajar dari bapak tadi
bahwa kebahagiaan adalah bersyukur dan ikhlas untuk melakukan sesuatu demi
orang yang kita sayang. Karena berjuang demi orang yang kita sayang dan melihat
mereka bahagia atas apa yang telah kita perjuangkan juga akan membahagian diri
kita sendiri. Simplicity is beautiful, simplicity is happiness. You will be
beautiful in simplicity (apadeeeeh). Salam super.... Supermi (´̯-̮`̯)
Btw, ketauan Anggun nangis nih. Gyaaa
apabanget dia nyodorin tissue. Kan jadi tengsin (˘̯˘)
0 Comment:
Post a Comment