4/2/13

Sepenggal Kisah dari Semangkuk Bakso

Ajeng Novia Anggraini

Kala itu gue sedang duduk di sebuah kafetaria yang cukup terkenal di kota ini. Ditemani semangkuk bakso, segelas Es The Manis di bawah tirisan hujan. Gue basah kuyup dan kedinginan, tapi beruntung semangkuk bakso ini menyelematkan. Nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan dalam semangkuk bakso ini, Jeng?

Di tengah hujan gue melihat sesosok pria yang mengais rejeki di tengah derasnya air hujan. Ya, pria itu tukang parkirnya kafe ini. Beliau tetap mengatur kendaraan yang keluar masuk di tengah hujan yang turun dengan derasnya. Gue liat beliau mengigil, kedinginan. Bibirnya pucat, badannya gemetaran saat dia duduk di seberang gue sambil memperhatikan kendaraan yang lalu lalang. Gue jadi berpikir, apa jadinya tempat parkir kecil ini kalau beliau tidak ada. Orang-orang pasti dengan seenak mereka memarkirkan kendarannya sehingga bisa saja orang lain yang ingin keluar terhalang oleh kendaraan-kendaraan lainnya.

Pikiran gue kembali mengalir seiring derasnya hujan yang jatuh. Kira-kira bapak ini udah punya anak ga ya? Kalo iya, gue yakin dia ngelakuin ini, rela hujan-hujanan dan lari larian tanpa menggunakan alas kaki, demi anaknya. Gue jadi berpikir, gimana seandainya gue berada di posisi anaknya bapak ini. Gue pasti bangga dan salut atas perjuangan beliau. Setidaknya uang yang ia hasilkan ini halal, ketimbang mereka yang menghabiskan waktunya seharian di ruangan ber-AC, nyaman, dan cuma ongkang-ongkang kaki tapi bisa menghasilkan miliaran rupiah.

Beberapa menit kemudian gue liat ada anak kecil lari-larian di tengah hujan berseragam putih merah. Bapak tadi menyodorkan sebuah bungkusan ke anak tersebut. Ah, pasti ini anaknya bapak itu. Anak itu juga menggigil kedinginan, lalu ia membuka bungkusan yang ternyata isinya gorengan. Anak itu keliatannya lapar karna dia makan tanpa babibu. Bapak tadi memperhatikan anaknya, sambil tersenyum. Tanpa sadar ada sesuatu di pelupuk mata gue. Ya Tuhan, itu senyum ketulusan. Gue jadi inget papa gue di rumah, dan gue pengen nangis kejer sambil guling-gulingan, dan kemudian tersadar ini tempat umum. Nyesek.

Tanpa sadar mangkuk bakso gue terasa dingin, karena gue gamau menyia-nyiakan apa yang sudah gue dapatkan dan apa yang telah bokap gue perjuangkan untuk gue, gue makan tanpa napas (teteup).

Well, setidaknya hari ini gue belajar banyak dari bapak ini. Ternyata serba kekurangan juga tetap bisa membuat orang bahagia. Tapi ada syaratnya, bersyukur. Ya karena dengan bersyukur kita akan merasa apa yang Tuhan kasih ke kita itu lebih dari cukup. Kalau orang bilang bahagia itu sederhana, ya memang sederhana. Kita bisa belajar dari bapak tadi bahwa kebahagiaan adalah bersyukur dan ikhlas untuk melakukan sesuatu demi orang yang kita sayang. Karena berjuang demi orang yang kita sayang dan melihat mereka bahagia atas apa yang telah kita perjuangkan juga akan membahagian diri kita sendiri. Simplicity is beautiful, simplicity is happiness. You will be beautiful in simplicity (apadeeeeh). Salam super.... Supermi (´̯-̮`̯)

Btw, ketauan Anggun nangis nih. Gyaaa apabanget dia nyodorin tissue. Kan jadi tengsin (˘̯˘) 

Ajeng Novia Anggraini / Author & Editor

Ajeng Novia Anggraini or sometimes called as JJ is an Indonesian blogger who blogs about her daily life and another conspiracy around her

0 Comment:

Post a Comment

Coprights @ 2016, Blogger Template Designed By Templateism

Distributed By Gooyaabi Templates